Ilustrasi - agama Mandaisme (Foto: wikipedia)
Jakarta, Terasmuslim.com - Dalam masyarakat yang hidup berdampingan dengan beragam keyakinan, kemiripan simbol atau gaya berpakaian antaragama kadang memunculkan kebingungan.
Tak jarang, seseorang yang mengenakan sorban atau hijab langsung diasumsikan sebagai muslim, padahal belum tentu demikian. Fenomena ini menunjukkan pentingnya pemahaman lintas agama agar kita tidak keliru menilai hanya dari tampilan luar.
Beberapa agama memiliki ciri khas yang secara visual menyerupai ajaran Islam, baik dari segi pakaian maupun ritual ibadah. Di antara yang paling sering disalahartikan adalah Mandaisme, Sikhisme, dan Kristen Ortodoks.
Mandaisme adalah agama monoteistik kuno yang masih bertahan di wilayah Irak dan Iran. Meski kurang dikenal, ajaran ini menghormati tokoh-tokoh yang juga dikenali dalam Islam seperti Nabi Nuh dan Nabi Adam, namun tokoh sentral mereka adalah Yohanes Pembaptis.
Ritual utama dalam Mandaisme adalah baptisan mingguan yang disebut Maskuta, serta upacara Meseta yang melibatkan pembacaan kitab suci dan kegiatan spiritual bersama.
Karena busana mereka sering serupa dengan pakaian muslim, seperti jubah putih dan penutup kepala, banyak orang yang keliru menyangka mereka sebagai umat Islam.
Sikhisme berasal dari wilayah Punjab, India, dan didirikan oleh Guru Nanak pada abad ke-15. Agama ini mengajarkan monoteisme, namun tidak mengakui kenabian seperti dalam Islam.
Ciri paling mencolok dari pemeluk Sikh adalah penggunaan sorban dan janggut panjang bagi pria, serta penutup kepala bagi wanita. Simbol-simbol ini sering kali membuat mereka disangka muslim, terutama di kawasan yang minim pengetahuan soal keberagaman keyakinan. Padahal, sorban bagi penganut Sikh merupakan simbol spiritual dan disiplin keagamaan yang khas dalam tradisi mereka sendiri.
Berbeda dengan gereja Katolik atau Protestan, Kristen Ortodoks mempertahankan sejumlah praktik ibadah kuno yang membuatnya tampak mirip dengan Islam di mata awam.
Salah satunya adalah penggunaan kerudung oleh wanita saat beribadah, serta gerakan doa yang melibatkan tangan terangkat dan bersujud di lantai.
Tradisi ini umum terlihat dalam Liturgi Ilahi, khususnya pada hari Minggu. Gerakan fisik saat berdoa yang menyerupai sholat kerap memunculkan persepsi keliru bahwa mereka adalah muslim.
Namun secara teologis, Kristen Ortodoks tetap berpegang pada ajaran Trinitas yang jelas berbeda dari konsep Tauhid dalam Islam.
Fenomena salah kaprah ini menunjukkan pentingnya literasi keagamaan di masyarakat. Hanya karena seseorang mengenakan hijab, sorban, atau berjanggut, bukan berarti mereka pasti muslim. Kesamaan penampilan tidak selalu mencerminkan kesamaan akidah.
Untuk menghindari prasangka dan salah paham, dibutuhkan sikap terbuka, edukasi, dan rasa ingin tahu yang sehat terhadap agama lain. Mengetahui lebih dalam soal tradisi keagamaan di luar keyakinan kita bukan hanya memperluas wawasan, tapi juga memperkuat toleransi dan keharmonisan sosial.
Keberagaman adalah anugerah, bukan ancaman. Dengan saling memahami, kita bisa hidup berdampingan dengan damai dalam masyarakat yang plural. Sebab, persatuan tak hanya dibangun dari kesamaan, tapi juga dari kemampuan menerima dan menghormati perbedaan.