• KEISLAMAN

Membedah Mitos Kesialan Bulan Safar dalam Islam

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Kamis, 31/07/2025
Membedah Mitos Kesialan Bulan Safar dalam Islam Ilustrasi - bulan Safar (Foto: shutterstock)

Jakarta, Terasmuslim.com - Bulan Safar seringkali dianggap sebagai bulan penuh kesialan, dengan banyak orang yang menghindari acara penting seperti pernikahan atau pindah rumah karena khawatir akan dampak buruknya.

Akan tetapi, apakah anggapan ini benar adanya atau hanya mitos yang berkembang di masyarakat?

Menurut Ibnu Rajab al-Hanbali, bulan Safar tidak memiliki kekhususan tertentu yang membedakannya dari bulan lainnya. Beliau menegaskan bahwa keburukan atau kebaikan bisa terjadi di bulan apa pun, dan kesialan tidak dapat dipatok pada bulan tertentu.

Keyakinan bahwa bulan Safar adalah bulan penuh kesialan hanya berasal dari tradisi orang Arab Jahiliah, yang menganggap waktu dan peristiwa tertentu dapat membawa pengaruh tersendiri, baik itu kesialan atau kebaikan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang terkait dengan bulan Safar atau waktu lainnya. Beliau berkata:

“Tidak ada wabah yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah, tidak pula tanda kesialan, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar” (HR. Bukhari).

Masyarakat Jahiliah sebelumnya meyakini bahwa kejadian-kejadian tertentu, seperti bulan Safar, bisa memberi pengaruh buruk atau baik secara otomatis.

Namun, Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi semata-mata atas kehendak Allah, dan bukan karena faktor waktu atau kebetulan.

Sejarah juga menunjukkan bahwa beberapa peristiwa penting dalam Islam terjadi pada bulan Safar, seperti pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah, hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah, dan sejumlah kemenangan dalam peperangan Islam seperti Perang Abwa dan Perang Khaibar.

Dengan demikian, anggapan bahwa bulan Safar penuh dengan kesialan tidak memiliki dasar yang kuat dan harus diluruskan. Sebagai umat Islam, kita seharusnya tidak terjebak dalam keyakinan yang bertentangan dengan ajaran Islam dan tetap mengandalkan takdir serta kehendak Allah SWT dalam setiap peristiwa hidup.