Ilustrasi berdoa khawatir dengan masa depan
Jakarta, Terasmuslim.com - Kekhawatiran terhadap masa depan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan manusia. Namun, bagaimana pandangan Islam terhadap rasa cemas dan khawatir akan hal-hal yang belum terjadi?
Dalam Islam, kekhawatiran terhadap masa depan diperbolehkan selama tidak berlebihan dan tidak mengarah kepada keputusasaan. Rasa cemas merupakan bagian dari fitrah manusia yang diakui dalam ajaran agama. Namun demikian, Islam menempatkan batasan tegas agar kekhawatiran itu tidak menjauhkan seseorang dari nilai-nilai keimanan dan ketawakalannya kepada Allah ﷻ.
Al-Qur’an secara tegas memerintahkan umat Islam untuk bertawakal, yakni berserah diri kepada Allah setelah melakukan usaha. Dalam surah Al-Ahzab ayat 3, Allah berfirman, “Dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai Pelindung.” Ayat ini menjadi landasan penting bahwa masa depan adalah wilayah kuasa Allah, dan manusia diperintahkan untuk menghadapinya dengan usaha dan kepercayaan penuh kepada-Nya.
Menariknya, Rasulullah SAW pun pernah merasakan cemas dalam menghadapi berbagai situasi, baik dalam urusan pribadi maupun perjuangan dakwah. Namun, beliau mencontohkan cara menghadapi kecemasan dengan doa, shalat, dan sikap positif terhadap takdir Allah.
Islam sangat melarang umatnya terjerumus dalam sikap putus asa, sebagaimana ditegaskan dalam surah Yusuf ayat 87, “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa rasa khawatir tidak boleh berkembang menjadi keputusasaan yang melemahkan keimanan.
Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung: pagi hari ia keluar dalam keadaan lapar dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang.” Hadis ini menggambarkan pentingnya usaha dan tawakal sebagai bekal dalam menghadapi ketidakpastian hidup.
Dengan demikian, kekhawatiran terhadap masa depan boleh saja dirasakan, namun harus dibarengi dengan sikap positif, doa, dan kepercayaan penuh terhadap rahmat Allah. Islam tidak mengingkari perasaan manusia, namun mengarahkan agar rasa tersebut tidak mengganggu keimanan dan amal perbuatan.