• KEISLAMAN

Benarkah Nabi Muhammad Hadir dalam Majelis Shalawatan, Ini Penjelasan Ulama

Yahya Sukamdani | Sabtu, 26/07/2025
Benarkah Nabi Muhammad Hadir dalam Majelis Shalawatan, Ini Penjelasan Ulama Ilustrasi majelis ilmu

Terasmuslim.com - Majelis shalawat telah menjadi bagian penting dalam kehidupan umat Islam di berbagai daerah. Diiringi lantunan pujian dan kecintaan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ, majelis ini kerap disebut sebagai ruang spiritual yang dipenuhi keberkahan. Namun, tak jarang muncul pertanyaan di tengah masyarakat: benarkah Nabi Muhammad hadir dalam majelis shalawat?

Pertanyaan ini kerap muncul seiring berkembangnya tradisi keagamaan, terutama di kalangan pecinta shalawat dan pengamal tarekat. Sebagian jamaah meyakini bahwa Nabi hadir secara ruhani, bahkan tidak sedikit yang merasa “merasakan” kehadirannya. Namun, bagaimana pandangan Islam secara syar’i mengenai hal ini?

Dalam hadis sahih riwayat Ahmad dan Abu Dawud, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di bumi untuk menyampaikan kepada-Ku salam dari umatku.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa setiap shalawat yang dilantunkan oleh umat Islam akan sampai kepada Rasulullah, melalui perantara malaikat. Para ulama menegaskan bahwa inilah mekanisme yang benar dalam syariat Islam, bukan dengan anggapan bahwa Nabi hadir secara fisik dalam sebuah majelis.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr. Syamsul Anwar, dalam salah satu kajiannya menyatakan bahwa keyakinan terhadap kehadiran Nabi secara fisik tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an maupun hadis. “Nabi Muhammad telah wafat dan berada di alam barzakh. Shalawat sampai kepada beliau, tapi bukan berarti beliau datang secara fisik ke majelis,” jelasnya.

Meski demikian, dalam tradisi tasawuf, ada pemahaman bahwa ruh Rasulullah bisa "hadir" secara ruhani dalam suasana batin yang penuh cinta dan adab. Ulama seperti Imam Jalaluddin As-Suyuthi dan Imam Al-Qurthubi membolehkan keyakinan ini selama tidak bertentangan dengan akidah dan tidak dikultuskan secara berlebihan.

Pakar hadis dan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Dr. Ahmad Zainul Hamdi, menyampaikan bahwa majelis shalawat sejatinya adalah sarana untuk menumbuhkan kecintaan dan keteladanan terhadap Rasulullah. “Jika seseorang merasa terhubung secara spiritual, itu bagian dari pengalaman batin. Tapi jangan dijadikan dasar hukum atau keyakinan mutlak,” tuturnya.

Islam juga menekankan pentingnya menjaga batas keyakinan agar tidak terjerumus pada syirik atau pemahaman mistik yang tidak berdasar. Menjadikan Nabi seolah hadir secara jasmani dalam majelis bisa membuka celah pada kesalahan akidah, terutama jika disertai dengan anggapan bahwa majelis tertentu lebih utama karena “dihadirkan langsung” oleh Rasulullah.

Dengan demikian, keyakinan tentang kehadiran Nabi Muhammad ﷺ dalam majelis shalawat harus dipahami dalam konteks spiritual, bukan fisikal. Yang pasti, setiap shalawat yang dilantunkan umatnya akan tetap sampai kepada beliau, dan majelis yang menghidupkan shalawat adalah majelis yang penuh keberkahan jika dijalankan dengan niat dan akidah yang lurus.