Ilustrasi - Al - Qur`an (Foto: Cordoba)
Jakarta, Terasmuslim.com - Kedatangan Zakir Naik ke Indonesia baru-baru ini memicu gelombang kontroversi di tengah masyarakat.
Sebagian orang menyambutnya sebagai sosok pendakwah internasional yang fasih berdalil dan piawai dalam perbandingan agama.
Namun, tidak sedikit pula yang menolak kehadirannya karena gaya ceramahnya dinilai terlalu provokatif dan tidak sensitif terhadap keberagaman yang ada di Indonesia.
Peristiwa ini membuka diskusi penting, yakni sejauh mana umat Islam harus bijak dalam memilih guru agama yang dijadikan panutan?
Dalam tradisi Islam, guru agama bukan sekadar seseorang yang pandai bicara atau memiliki popularitas tinggi. Lebih dari itu, seorang guru seharusnya memiliki kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, dan pemahaman yang bijak sesuai dengan konteks sosial masyarakat.
Dikutip dari beberapa sumber, ulama-ulama klasik bahkan menekankan bahwa mencari guru bukan hanya soal mencari orang pintar, tapi mencari sosok yang wara’, yaitu orang yang menjaga diri dari perkara syubhat dan memiliki sikap hati-hati dalam agama.
Lebih lanjut, penguasaan ilmu harus dibarengi dengan keteladanan moral yang nyata. Sebab, tidak semua yang terdengar hebat cocok untuk dijadikan pedoman hidup, apalagi di masyarakat yang beragam seperti Indonesia.
Dalam mencari guru agama, umat Islam perlu berhati-hati agar apa yang didengar, dipelajari, dan diamalkan benar-benar membawa ketenangan, kedamaian, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah, bukan justru menumbuhkan perpecahan atau sikap merasa paling benar sendiri.
Kontroversi ini seharusnya membuat kita semua semakin dewasa dan selektif dalam menentukan siapa yang layak dijadikan teladan dalam perjalanan beragama.