Ustadz Adi Hidayat ( Foto: Screenshoot YouTube Adi Hidayat Official)
Jakarta, Terasmuslim.com - Banyak yang memahami zalim hanya sebatas tindakan kejam atau penindasan. Namun menurut Ustadz Adi Hidayat (UAH), makna zalim jauh lebih luas dan bisa menyelinap ke dalam aspek kehidupan yang tak terduga, termasuk dalam dunia ilmu dan hafalan Al-Qur`an.
Dalam kajiannya yang disiarkan lewat kanal YouTube @amalsunnah pada Ahad (13/7/2025), UAH menegaskan bahwa kezaliman sejati terjadi ketika seseorang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya, termasuk ayat-ayat suci dalam Al-Qur`an.
Menurut UAH, seseorang bisa hafal surat Al-Ikhlas yang menegaskan keesaan Allah, namun tetap menganggap semua agama sama. Ini merupakan contoh penyimpangan makna yang tergolong zalim, karena menyalahgunakan kandungan wahyu.
“Tidak cukup hanya hafal, yang lebih penting adalah memahami dan mengamalkan,” ujar UAH.
Ia mengingatkan bahwa Al-Qur`an adalah pedoman hidup, bukan sekadar bacaan. Jika hanya dilantunkan tanpa menyesuaikan sikap dan perilaku, maka nilai-nilai ilahi di dalamnya justru ditinggalkan.
Tiga Golongan Pewaris Al-Qur`an
Mengutip QS. Fatir ayat 32, UAH menjelaskan bahwa pewaris Al-Qur`an terbagi dalam tiga golongan:
1. Orang yang zalim terhadap dirinya.
2 .Orang yang pertengahan.
3. Orang yang berlomba dalam kebaikan.
Golongan terakhir itulah yang benar-benar mencerminkan jiwa Qur’ani dalam tutur kata, perilaku, dan akhlaknya.
Untuk memperjelas makna zalim, UAH memberikan contoh sederhana: “Menggunakan gelas untuk mandi atau gayung untuk minum memang bisa, tapi tidak pada tempatnya. Begitulah Al-Qur`an jika disalahgunakan.”
Ia menekankan bahwa menjadi hafiz bukan soal hafalan, melainkan sejauh mana Al-Qur`an mengubah cara berpikir, bersikap, dan hidup.
UAH menggambarkan bahwa hafiz sejati akan terlihat dari akhlaknya. Ia tidak mudah mencaci, tidak kasar, tidak berbuat curang, dan tidak menyakiti sesama. Sebaliknya, ia membawa kedamaian, keteduhan, dan menjadi teladan di tengah masyarakat.
“Orang yang benar-benar mencintai Al-Qur`an akan memancarkan akhlak yang menawan, bukan karena fisik, tapi karena cahaya dari nilai-nilai ilahi,” tegasnya.
Di akhir kajiannya, UAH mengajak umat Islam untuk mengevaluasi niat dan kualitas hafalan mereka. Menurutnya, yang Allah nilai bukan seberapa banyak ayat yang dihafal, tetapi seberapa jauh kandungannya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Zalim bisa datang dalam bentuk yang halus, ketika ayat-ayat larangan dihafal namun tetap dilanggar. Itulah pentingnya menempatkan ilmu sesuai porsinya,” ujarnya menutup pesan.