Ilustrasi tulisan Allah
Terasmuslim.com - Banyak orang mungkin merasa hidupnya sudah cukup dengan harta, jabatan, atau pencapaian duniawi. Namun tanpa mengenal Allah, kehidupan sejatinya menjadi kosong dan rapuh. Dalam Islam, keadaan manusia yang jauh dari Tuhannya digambarkan sebagai kehidupan yang penuh kehampaan, kebingungan, dan kehilangan arah.
Manusia diciptakan bukan hanya untuk hidup, bekerja, dan mati. Islam mengajarkan bahwa tujuan utama manusia adalah untuk mengenal dan menyembah Allah. Tanpa hubungan dengan Sang Pencipta, jiwa akan mudah goyah, terombang-ambing oleh godaan dunia, dan jauh dari kedamaian hakiki.
Seseorang yang tidak mengenal Allah sering kali merasa ada kekosongan di dalam dirinya, meskipun lahir terlihat bahagia. Hati yang jauh dari dzikir dan kesadaran ilahiah akan kehilangan ketenangan. Al-Qur’an menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati bisa tenang (QS. Ar-Ra’d: 28).
Tanpa iman, dunia menjadi tujuan utama. Segala cara bisa dilakukan demi materi atau kekuasaan. Padahal, dalam pandangan Islam, dunia hanyalah tempat singgah sementara. "Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang akhirat adalah lalai." (QS. Ar-Rum: 7).
Orang yang tidak meyakini adanya Tuhan cenderung menganggap dirinya bebas dari aturan moral ilahi. Ia lebih mudah mengikuti hawa nafsu dan mengabaikan batasan syariat. Al-Qur’an menyebut mereka sebagai orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan (QS. Al-Jatsiyah: 23).
Ketika tidak mengenal Allah dan akhirat, kematian menjadi momok yang menakutkan. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kematian adalah awal dari kehidupan kekal. Orang yang lalai tidak punya bekal untuk menghadapinya, sehingga hidupnya selalu dibayangi rasa takut yang tak jelas ujungnya.
Tanpa petunjuk ilahi, manusia akan terus mencari-cari makna hidup. Banyak yang merasa hampa meski sudah mencapai kesuksesan dunia. Dalam Islam, mengenal Allah adalah fondasi agar hidup memiliki arah, makna, dan kebahagiaan sejati.
Islam mengajak setiap manusia untuk kembali mengenal Tuhannya. Bukan hanya dengan akal, tetapi dengan hati dan amal. Karena sesungguhnya, kebahagiaan sejati bukan terletak pada dunia, melainkan pada hubungan yang utuh antara hamba dan Rabb-nya.