• KEISLAMAN

Keteladanan Nabi Muhammad dalam Memuliakan Perempuan

Agus Mughni Muttaqin | Minggu, 13/07/2025
Keteladanan Nabi Muhammad dalam Memuliakan Perempuan Ilustrasi seorang perempuan sedang bersyukur (Foto: Pexels/PNW Production)

Terasmuslim.com - Dalam lintasan sejarah manusia, belum pernah ada sosok pemimpin yang begitu agung dalam memperlakukan perempuan seperti Nabi Muhammad ﷺ. Di masa ketika perempuan dianggap rendah, Islam datang membawa cahaya yang mengangkat martabat mereka ke tempat terhormat.

Ajaran Islam yang dibawa Rasulullah tidak berhenti pada kata-kata. Beliau sendiri mencontohkan secara nyata bagaimana menghormati perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Kehadiran perempuan dalam hidup Nabi bukan sekadar pelengkap, melainkan mitra sejajar yang dihormati dengan penuh kasih dan tanggung jawab. Beliau memperlakukan mereka sebagai bagian penting dalam bangunan sosial dan spiritual umat.

Hal ini ditegaskan oleh cendekiawan Muslim Indonesia, Prof. M. Quraish Shihab, yang menyampaikan bahwa perempuan harus dihargai bukan karena laki-laki membutuhkannya. Tapi karena perempuan adalah pusat kehidupan dan kunci keberlangsungan peradaban, demikian dikutip Panrita.

Tanpa perempuan, tidak akan ada generasi, tidak akan ada rumah tangga, dan tak akan lahir peradaban. Maka laki-laki yang benar-benar memahami makna hidup akan memuliakan perempuan dengan tulus.

Rasulullah ﷺ pun menegaskan bahwa memperlakukan perempuan dengan baik adalah ukuran kemuliaan diri seseorang. Sebaliknya, merendahkan mereka adalah tanda kerendahan akhlak.

Dalam Al-Qur`an, Allah berfirman bahwa perempuan adalah pakaian bagi laki-laki sebagaimana laki-laki adalah pakaian bagi perempuan (QS. Al-Baqarah: 187). Pakaian yang saling melindungi, memperindah, dan menutupi kekurangan satu sama lain.

Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, pandangan ini telah ditegaskan jauh sebelum dunia mengenal konsep hak asasi perempuan. Sejak awal, Islam sudah menempatkan perempuan sebagai bagian sentral dari masyarakat.

Rasulullah ﷺ menyampaikan pesan penting ini dalam wasiat terakhirnya saat Haji Wada’, sebuah momen bersejarah yang monumental. Beliau bersabda:

"Wahai manusia, sesungguhnya bagi istri-istri kalian ada hak atas kalian, dan kalian juga memiliki hak atas mereka... Maka bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan perempuan, dan berpesanlah kepada mereka dengan kebaikan."
(HR. Ibnu Hisyam)

Wasiat ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi peringatan spiritual bahwa perempuan adalah amanah dari Allah. Maka memperlakukan mereka dengan baik menjadi bagian dari bentuk takwa yang sejati.

Rasulullah juga memahami bahwa perempuan kerap menjadi pihak yang rentan dan terabaikan dalam masyarakat. Oleh karena itu, beliau selalu menekankan agar perempuan diperlakukan dengan empati dan perlindungan.

Dalam kehidupan rumah tangga, beliau tak pernah bertindak kasar terhadap istri-istrinya. Bahkan ketika terjadi perbedaan pendapat, beliau menyelesaikannya dengan kelembutan dan kebijaksanaan.

Kepada putrinya, Sayyidah Fatimah Azzahra, Rasulullah SAW selalu menunjukkan penghormatan yang mendalam. Beliau berdiri menyambut, mencium keningnya, dan memuliakannya sebagai wujud cinta sekaligus penghargaan.

Perlakuan beliau terhadap para istrinya juga penuh kasih dan kesetaraan. Rasulullah SAW menjadi teman bicara, pendengar yang setia, dan tak segan membantu pekerjaan rumah.

Itulah cinta dalam Islam—sebuah tanggung jawab yang lahir dari penghormatan, bukan dominasi. Dan teladan ini terus relevan untuk dijadikan pegangan dalam membangun keluarga yang harmonis.

Rasulullah bersabda:

"Orang-orang beriman yang paling sempurna imannya adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik akhlak kalian adalah yang paling baik kepada perempuan."
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa sikap terhadap perempuan bukan hanya soal etika, tetapi cermin dari kualitas iman seseorang. Akhlak kepada perempuan adalah barometer keislaman yang sesungguhnya.

Islam juga memuliakan perempuan sebagai anak, bukan hanya sebagai istri atau ibu. Rasulullah sering mengajarkan pentingnya bersikap sabar dan baik kepada anak perempuan.

Aisyah pernah meriwayatkan kisah seorang ibu yang datang bersama dua anak perempuannya dan hanya memiliki sebutir kurma. Sang ibu membaginya kepada dua anaknya dan tidak menyisakan untuk dirinya sendiri.

Rasulullah bersabda:

"Barang siapa yang diuji dengan anak perempuan, lalu dia memperlakukan mereka dengan baik, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perempuan, dalam pandangan Islam, bukan hanya layak dihormati, tetapi juga menjadi jalan menuju keselamatan. Kebaikan kepada mereka bukan hanya dibalas di dunia, tapi juga menjadi pelindung di akhirat.

Dengan semua itu, jelas bahwa Islam bukan sekadar memberi hak kepada perempuan, tetapi juga memosisikan mereka sebagai bagian penting dari struktur moral dan sosial. Mereka berhak atas pendidikan, pilihan, martabat, dan perlindungan yang sejati.

Keteladanan Nabi Muhammad ﷺ terhadap perempuan adalah bukti hidup bahwa Islam benar-benar memuliakan mereka. Beliau tidak berhenti pada kata, tapi memperjuangkannya melalui tindakan nyata.

Di tengah dunia modern yang masih mencari-cari bentuk keadilan gender, warisan Rasulullah ini tetap relevan dan layak dijadikan rujukan. Karena memuliakan perempuan bukanlah tren, tapi panggilan dari iman yang murni. (*)

Wallohu`alam