• SOSOK

Siapa Guru Besar di Balik Mazhab dalam Islam?

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Kamis, 10/07/2025
Siapa Guru Besar di Balik Mazhab dalam Islam? Ilustrasi - mazhab Hanafi (Foto: Kompas)

Jakarta, Terasmuslim.com - Dalam sejarah keilmuan Islam, empat mazhab besar fikih yang hingga kini banyak dianut umat Muslim memiliki akar sanad keilmuan yang kuat dan bersambung hingga ke para sahabat Nabi.

Namun, sedikit yang tahu bahwa di balik kebesaran nama-nama seperti Imam Abu Hanifa, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, terdapat tokoh-tokoh besar yang menjadi guru mereka dan turut membentuk pondasi pemikiran yang kokoh.

Imam Abu Hanifa, misalnya, dikenal luas sebagai pendiri mazhab Hanafi. Namun, di balik keluasan ilmunya terdapat sosok gurunya yang utama, yaitu Hammad ibn Abi Sulaiman.

Abu Hanifa belajar selama 18 tahun kepada Hammad, seorang tabi`in yang juga menerima ilmu dari sahabat besar. Dari Hammad-lah, Abu Hanifa mempelajari logika, qiyas (analogi), serta pendekatan hukum Islam yang kelak menjadi ciri khas mazhab Hanafi. Selain Hammad, Abu Hanifa juga sempat bertemu dan berdialog dengan para sahabat Rasulullah SAW yang masih hidup pada zamannya.

Sementara itu, Imam Malik bin Anas tumbuh dan menimba ilmu di Madinah, pusat keilmuan Islam pada masa awal. Ia belajar dari banyak ulama besar seperti Ibn Shihab al-Zuhri dan murid sahabat seperti Nafi’ dan Muhammad bin Munkadir.

Salah satu guru paling menonjolnya adalah Ja’far al-Shadiq, cicit Rasulullah SAW, yang dikenal luas karena kedalaman ilmunya. Dari interaksi dan pembelajaran itu, Imam Malik menyusun karya monumental berjudul Al-Muwatta’, yang dianggap sebagai salah satu kitab hadis dan fikih paling awal dalam sejarah Islam.

Imam Syafi’i, yang lahir pada tahun wafatnya Imam Abu Hanifa, dikenal sebagai peletak dasar usul fikih yang sistematis. Syafi’i menimba ilmu kepada Imam Malik di Madinah dan menjadi murid kesayangannya.

Setelah itu, ia juga belajar dari murid-murid Imam Abu Hanifa, terutama Muhammad ibn al-Hasan al-Shaybani, saat tinggal di Irak. Dari kedua mazhab besar inilah Syafi’i kemudian merumuskan pendekatan fikihnya sendiri yang dikenal moderat dan metodologis, serta berhasil menjadi jembatan antara pendekatan rasional (Iraq) dan tradisional (Hijaz).

Sementara itu, Imam Ahmad bin Hanbal merupakan tokoh yang paling dikenal dengan semangat menjaga kemurnian hadis. Ia adalah murid langsung Imam Syafi’i dan turut menimba ilmu dari berbagai perawi hadis ternama di Baghdad.

Keteguhannya dalam mempertahankan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang tidak diciptakan membuatnya harus melewati masa ujian berat saat Mihnah (inkuisisi pemikiran) di bawah kekuasaan Khalifah Abbasiyah. Meski demikian, ilmu dan keteladanan beliau melahirkan mazhab Hanbali yang dikenal dengan kuatnya sandaran pada dalil nash dan hadis.

Rantai keilmuan yang menghubungkan para imam ini kepada generasi sahabat dan tabi’in membuktikan bahwa mazhab-mazhab fikih dalam Islam tidak dibentuk berdasarkan pemikiran pribadi yang terputus, melainkan hasil dari proses panjang pembelajaran, diskusi, dan transmisi ilmu yang sahih dari guru ke murid. Dalam dunia pesantren dan lembaga keilmuan Islam, rantai sanad inilah yang menjadi jaminan otoritas ilmu.

Penelusuran dari berbagai sumber, termasuk Muslim.sg, Wikipedia, dan karya ulama seperti Imam al-Dzahabi, menunjukkan betapa eratnya hubungan keilmuan antar para imam mazhab.

Dengan memahami siapa para guru mereka, umat Islam hari ini dapat lebih menghargai kekayaan khazanah fikih yang ditinggalkan serta menyadari bahwa perbedaan mazhab bukanlah sumber perpecahan, melainkan hasil dari keberagaman perspektif dalam memahami syariat berdasarkan prinsip-prinsip yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Keywords :