• KEISLAMAN

Mitos Jawa di Bulan Suro, Ini Kata Buya Yahya

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Selasa, 24/06/2025
Mitos Jawa di Bulan Suro, Ini Kata Buya Yahya Buya Yahya (Foto: liputan6)

Jakarta, Terasmuslim.com - Dalam masyarakat Jawa, nama bulan Suro kerap membawa nuansa yang sarat mitos dan kepercayaan turun-temurun. Banyak yang meyakini bahwa bulan ini adalah waktu yang penuh pantangan, sehingga mereka menghindari acara pernikahan, enggan bepergian jauh, atau bahkan menunda kegiatan besar lainnya. Padahal, dalam penanggalan Islam, bulan Suro sejatinya adalah bulan Muharram—salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Sayangnya, keyakinan bahwa bulan Suro adalah waktu sial masih melekat kuat, tidak hanya di kalangan masyarakat pedesaan tetapi juga di sebagian kalangan perkotaan. Anggapan ini bahkan menjangkau generasi muda, yang kadang lebih akrab dengan cerita mistis dibanding makna spiritual yang sesungguhnya.

Menanggapi hal ini, ulama karismatik KH Yahya Zainul Ma’arif atau yang dikenal sebagai Buya Yahya, memberikan klarifikasi dalam salah satu kajian yang ditayangkan di kanal YouTube Al Bahjah TV. Ketika ada jamaah yang bertanya mengenai anggapan bahwa bulan Suro adalah bulan keramat yang rawan bencana, Buya Yahya dengan tegas membantahnya.

“Dalam Islam, tidak ada bulan yang membawa kesialan. Semua bulan adalah ciptaan Allah dan setiap waktu memiliki potensi kebaikan jika digunakan untuk beribadah,” ujar Buya Yahya dalam kajian tersebut.

Menurut beliau, anggapan bahwa bulan tertentu membawa nasib buruk bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan warisan budaya yang kurang tepat. Islam tidak mengenal hari sial atau waktu celaka. Justru, lanjutnya, yang menjadikan hari buruk adalah saat manusia menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah SWT.

Lebih lanjut, Buya Yahya menegaskan bahwa bulan Muharram adalah salah satu bulan haram (asyhurul hurum), yang artinya bulan yang dimuliakan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا... مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah adalah dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram.”
(QS. At-Taubah: 36)

“Bulan haram itu bukan berarti menakutkan, justru dimuliakan. Kita dianjurkan memperbanyak amal saleh di dalamnya,” ujar beliau. Ia pun menyayangkan masih adanya masyarakat yang lebih mempercayai mitos dan kata-kata dukun dibandingkan nasihat dari ulama.

Muharram juga dikenal sebagai bulan penuh keutamaan dalam sejarah Islam. Rasulullah SAW sendiri menyebut bahwa puasa paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.”
(HR. Muslim)

Khususnya pada tanggal 9 dan 10 Muharram—yang dikenal dengan Tasu’a dan Asyura—umat Islam sangat dianjurkan untuk berpuasa. Puasa Asyura disebutkan dapat menghapus dosa setahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa Muharram adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk dihindari.

Dalam sejarah, banyak peristiwa besar terjadi di bulan ini, termasuk selamatnya Nabi Musa AS dari kejaran Fir’aun dan juga tragedi Karbala yang menimpa cucu Rasulullah SAW, Husain bin Ali RA. Peristiwa-peristiwa ini bukan untuk ditakuti, tapi direnungkan sebagai pelajaran iman dan keteguhan prinsip.

Buya Yahya pun menutup penjelasannya dengan ajakan agar umat Islam tidak lagi terpengaruh oleh keyakinan yang tidak berdasar. “Jika kita masih takut beraktivitas di bulan ini karena mitos, itu berarti kita telah merendahkan ajaran agama sendiri. Muliakanlah bulan Muharram dengan ibadah dan kebaikan,” tegasnya.