Ilustrasi bersyukur
Terasmuslim.com - Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, manusia sering terjebak dalam pusaran ambisi tanpa batas, rakus alias tamak. Kesibukan mengejar yang belum ada digenggaman seringkali mengaburkan pandangan terhadap karunia yang sudah nyata di tangan.
Dalam perspektif Islam, kondisi ini menjadi perhatian serius, sebab rasa syukur terhadap nikmat dan kewaspadaan terhadap sifat tamak bukan hanya masalah akhlak pribadi, melainkan cermin dari kondisi spiritual seseorang. Hal itu juga termasuk yang menentukan keberkahan hidup seseorang.
Mensyukuri nikmat adalah prinsip sentral dalam ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Dikutip dari berbagai sumber, dalam Islam, syukur bukan hanya ucapan, melainkan melibatkan hati, lisan, dan tindakan. Bersyukur dapat diartikan dengan menggunakan nikmat Allah sesuai dengan fungsinya dan dalam kebaikan. Itulah bentuk pengakuan bahwa nikmat itu datang dari-Nya.
Syukur mendidik manusia untuk rendah hati dan puas terhadap apa yang dimiliki. Ini penting dalam membangun kesehatan mental, menumbuhkan rasa cukup (qana`ah), serta memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Di sisi lain, tamak atau kerakusan digambarkan dalam banyak hadis sebagai penyakit hati yang membutakan nurani. Rasulullah SAW bersabda:
“Jika anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan menginginkan yang ketiga. Tidak ada yang bisa memenuhi (nafsu) perut anak Adam kecuali tanah (kematian).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tamak mendorong manusia mengejar dunia tanpa batas etika. Ia menjadi akar dari korupsi, penindasan, hingga kerusakan lingkungan. Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, sifat tamak adalah hijab antara manusia dan ketenangan jiwa. Ia menulis: “Orang tamak akan selalu gelisah dan jauh dari kebahagiaan sejati.”
Islam tidak melarang umatnya mencari kekayaan. Bahkan, Rasulullah SAW adalah seorang saudagar sukses. Namun, Islam menekankan keseimbangan antara usaha dan keimanan, antara mengambil dan memberi.
Mensyukuri nikmat yang ada sambil tetap berusaha dengan cara halal adalah jalan tengah yang ditunjukkan Islam. Hal ini juga menguatkan sistem ekonomi Islam yang berbasis keadilan dan distribusi yang merata, bukan akumulasi tanpa batas. (*)
Wallohu`alam