• KEISLAMAN

Islam Menjaga Hak Tetangga, Wasiat Rasulullah yang Tak Boleh Dilupakan

Yahya Sukamdani | Selasa, 17/06/2025
Islam Menjaga Hak Tetangga, Wasiat Rasulullah yang Tak Boleh Dilupakan Ilustrasi berbagi makanan dengan tetangga

Terasmuslim.com - Di tengah kota yang hiruk-pikuk dan desa yang mulai ramai, hubungan antartetangga sering kali terlupakan. Padahal, dalam Islam, tetangga bukan hanya orang yang tinggal di samping rumah—tetapi bagian dari keluarga sosial yang wajib dihormati, dijaga, dan dibantu. Bahkan, Rasulullah ﷺ sampai bersabda bahwa Jibril terus-menerus mewasiatkan tentang tetangga sampai beliau mengira bahwa tetangga akan dijadikan ahli waris.

Betapa mulianya posisi tetangga dalam Islam. Bahkan sebelum bicara soal warisan atau hubungan darah, Rasulullah ﷺ sudah mewanti-wanti umatnya untuk berbuat baik kepada tetangga, tak peduli seberapa dekat atau jauhnya hubungan mereka secara keluarga.

Wasiat langit yang diturunkan berkali-kali

Dalam sebuah hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ bersabda:

“Jibril terus-menerus mewasiatkan kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku mengira ia akan menjadikannya ahli waris.”

Wasiat ini bukan sekadar anjuran sesaat. Ia diulang-ulang oleh Jibril, malaikat pembawa wahyu, menandakan bahwa berbuat baik kepada tetangga bukan sunnah biasa, tetapi refleksi dari iman yang hidup.

Bukti cinta kasih itu nyata, bukan hanya salam lisan

Islam mengajarkan agar tetangga bukan sekadar disapa, tetapi juga dirawat. Dalam QS. An-Nisa ayat 36, Allah memerintahkan untuk berbuat baik kepada tetangga dekat dan tetangga jauh—sejajar dengan perintah berbuat baik kepada orang tua, yatim, dan kaum miskin.

Itulah sebabnya, hak-hak tetangga dalam Islam sangat jelas:

  • Dijaga kehormatannya, jangan digunjing atau disebar aibnya
  • Dibantu saat kesulitan, terutama saat sakit, musibah, atau kelaparan
  • Dijaga ketenangannya, jangan diganggu dengan suara atau bau menyengat
  • Diberi makanan atau hadiah kecil, seperti yang diajarkan Nabi dalam hadis Muslim:
    "Jika engkau memasak kuah, perbanyaklah airnya, lalu bagikanlah kepada tetanggamu."

Modernitas tak menghapus akhlak bertetangga

Meskipun zaman berubah dan pagar rumah makin tinggi, Islam tetap meminta umatnya memperhatikan siapa yang tinggal di balik tembok sebelah. Bahkan dalam wasiat sebelum wafat pun, seorang Muslim dianjurkan mewariskan adab bertetangga kepada anak-anaknya.

Memberi wasiat untuk menyambung hubungan baik, tidak bermusuhan dengan tetangga, dan menjaga hak-hak mereka, adalah warisan yang jauh lebih bernilai dibanding sekadar harta benda.

Bertetangga adalah amanah sosial

Hubungan baik dengan tetangga tak hanya menenangkan hati, tapi juga memperkuat solidaritas sosial. Dalam kondisi darurat seperti kebakaran, kecelakaan, atau kesulitan ekonomi, tetangga biasanya menjadi orang pertama yang bisa menolong.

Itulah mengapa Islam menjadikan tetangga sebagai amanah, bukan hanya kenalan. Sebab dari situlah tumbuh kepedulian, empati, dan peradaban yang saling menjaga.

Wasiat yang terus hidup lewat perbuatan

Islam tidak hanya mengajarkan untuk meninggalkan wasiat soal harta, tapi juga mewariskan nilai-nilai luhur, termasuk adab terhadap tetangga. Wasiat Rasulullah soal tetangga adalah pesan yang harus dihidupkan setiap hari dalam senyum, dalam bantuan kecil, dalam doa, bahkan dalam sekadar menahan diri untuk tidak menyakiti.

Karena dalam Islam, iman bukan hanya terucap, tapi juga dirasakan oleh orang-orang di sekitar. Termasuk mereka yang tinggal satu tembok dengan kita.