Ilustrasi berdoa (FOTO: ADVENTISTHEALTHCARE)
Terasmuslim.com - Dalam perjalanan hidup, setiap Muslim tentu berharap agar selalu berada dalam naungan rahmat dan kasih sayang Allah ﷻ. Namun, ada kalanya seseorang merasa doanya tidak terkabul, hatinya terasa gelap, dan hidupnya jauh dari ketenangan. Bisa jadi, ini merupakan tanda bahwa Allah sedang berpaling darinya sebuah kondisi yang mengkhawatirkan dan harus segera disadari.
Allah tidak serta-merta berpaling dari hamba-Nya tanpa sebab. Justru, dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi, Allah menegaskan kasih sayang-Nya yang luas dan keterbukaan-Nya menerima taubat. Namun, apabila seseorang terus-menerus hidup dalam kelalaian, menolak peringatan, dan membangkang terhadap perintah-Nya, maka bisa jadi itulah awal dari kehinaan spiritual yakni ketika Allah mencabut taufik dan hidayah.
Salah satu tanda paling nyata bahwa Allah berpaling adalah ketika seseorang sulit melakukan kebaikan. Ia tidak lagi merasa nikmat saat salat, malas membaca Al-Qur’an, dan merasa berat untuk bersedekah. Bahkan, menuntut ilmu agama pun dianggap membosankan. Padahal dulu, mungkin ia aktif dan semangat dalam ibadah. Ini bukan semata-mata karena “sedang malas”, tetapi bisa jadi pertanda ruhani yang sedang merosot jauh.
Tanda lainnya adalah hati yang dibiarkan tenggelam dalam dosa tanpa rasa bersalah. Allah mungkin sudah menutup hatinya dari rasa penyesalan dan tidak lagi mengingatkan lewat bisikan hati nurani. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.”
(QS. Ash-Shaff: 5)
Selain itu, orang yang tidak diberi kesempatan bertaubat hingga akhir hayatnya juga merupakan bentuk berpalingnya Allah. Ini adalah kondisi paling mengerikan saat seorang hamba meninggal dalam keadaan lalai, tanpa sempat menyesali kesalahannya, dan Allah tidak membukakan pintu taubat baginya di akhir hidupnya.
Seseorang juga perlu waspada ketika tidak lagi merasa takut akan azab Allah dan tenang-tenang saja dalam maksiat. Hati yang keras dan tidak tersentuh oleh nasihat adalah tanda bahwa cahaya hidayah telah memudar. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi isyarat bahwa kehilangan rasa malu kepada Allah adalah tanda kehancuran iman.
Namun, ada harapan besar. Meski Allah berpaling dari seorang hamba, pintu rahmat-Nya tak pernah tertutup total selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Taubat yang tulus, istighfar yang konsisten, dan usaha memperbaiki diri bisa menjadi jalan kembali mendapatkan cinta dan perhatian-Nya. Bahkan, Allah berjanji dalam QS. Az-Zumar ayat 53:
“Katakanlah: Wahai hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
Oleh karena itu, bila merasa hidup mulai hampa, hati menjauh dari ibadah, dan dosa terasa biasa, segeralah bermuhasabah. Jangan tunggu Allah benar-benar berpaling. Selama pintu ampunan masih terbuka, kembalilah karena berpaling dari Allah adalah musibah, dan kembali kepada-Nya adalah anugerah yang tak ternilai.