• UMRAH & HAJI

Belum Mampu Haji, Bagaimana Pandangan Islam, Ini Sikap yang Diajarkan

Yahya Sukamdani | Selasa, 03/06/2025
Belum Mampu Haji, Bagaimana Pandangan Islam, Ini Sikap yang Diajarkan Ilustrasi ibadah haji (Foto: REUTERS)

Terasmuslim.com - Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang menjadi dambaan setiap Muslim di seluruh dunia. Namun karena biaya yang besar dan antrean yang panjang, banyak umat Islam yang belum mampu menunaikannya. Lantas, bagaimana Islam memandang orang yang belum berhaji karena belum mampu? Apakah ada kewajiban yang tertunda? Apa yang sebaiknya dilakukan?

Dalam ajaran Islam, ibadah haji hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu, baik secara fisik, finansial, maupun keamanan. Kewajiban ini berdasarkan firman Allah dalam QS. Ali Imran: 97:

“…Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Ayat ini menjadi dasar utama bahwa kemampuan (istitha’ah) adalah syarat utama haji menjadi wajib. Maka, seseorang yang secara jujur memang belum mampu, tidak berdosa dan tidak berdosa menundanya.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

"Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah." Seorang laki-laki berkata, "Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?" Maka Nabi menjawab, "Jika aku katakan ya, niscaya akan menjadi wajib dan kalian tidak akan mampu."
(HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa Islam tidak memberatkan umatnya. Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri menolak menjadikan haji sebagai kewajiban tahunan, karena mengetahui keterbatasan umatnya.

Bagi mereka yang belum mampu berhaji, yang dianjurkan adalah memantapkan niat, menabung, dan memperbanyak amal ibadah lainnya yang mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya, memperbanyak salat, puasa sunnah, sedekah, dan zikir. Bahkan ada banyak amal ibadah yang pahalanya sebanding atau mendekati keutamaan haji.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Barang siapa berjalan untuk menunaikan salat wajib berjamaah, maka ia seperti orang yang berhaji.”
(HR. Abu Dawud, hasan menurut Al-Albani)

Begitu pula dengan membantu orang lain, menyantuni fakir miskin, atau berkurban saat Iduladha. Semua itu bisa menjadi cara untuk tetap meraih pahala besar meski belum berkesempatan berhaji.

Selain itu, penting juga bagi setiap Muslim untuk berdoa dan berserah diri kepada Allah, meminta agar suatu hari dimampukan untuk berangkat ke Tanah Suci. Banyak kisah orang biasa yang akhirnya berangkat haji karena doa dan niat yang kuat, meskipun awalnya merasa tidak mungkin.

Islam tidak membebani hamba-Nya dengan sesuatu di luar kemampuannya. Bagi yang belum mampu haji, tidak ada dosa atau beban kewajiban sampai ia memiliki kemampuan. Namun selama menunggu, tetaplah beramal, berniat, dan berharap pada Allah karena niat yang tulus pun bisa diganjar pahala seolah-olah kita telah menunaikan ibadah itu.

Keywords :