Ilustrasi (Foto: staimaalhikam)
Terasmuslim.com - Setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh, umat Islam dianjurkan melanjutkannya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal. Puasa ini termasuk dalam amalan sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah).
Pelaksanaan puasa Syawal dapat dilakukan secara berturut-turut atau terpisah, selama masih dalam bulan Syawal. Rasulullah SAW pernah menyampaikan keutamaan besar bagi orang yang menjalankannya.
Dalam sebuah hadis dari Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِّنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Man shāma ramaḍāna tsumma atba‘ahu bisittin min syawwālin kāna kaṣiyāmid-dahr.”
Artinya: "Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan lalu diikuti enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun." (HR Muslim)
Secara fiqih, puasa Syawal bisa dijalankan setelah menunaikan qadha (mengganti) puasa Ramadhan. Namun, tidak dibenarkan untuk menggabungkan dua niat (niat puasa qadha dan sunnah Syawal sekaligus). Yang berlaku adalah satu niat, yaitu untuk qadha. Meskipun demikian, menurut KH Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), seseorang tetap berpeluang mendapatkan pahala puasa sunnah jika ia mengqadha di bulan Syawal.
Berdasarkan kalender Hijriah 1446 H, puasa Syawal dimulai pada 2 Syawal 1446 H, bertepatan dengan 1 April 2025. Bagi yang ingin melaksanakannya secara berturut-turut, maka puasa Syawal dapat ditunaikan dari 1–6 April 2025.
Namun jika memilih melakukannya tidak berurutan, maka selama masih dalam bulan Syawal (hingga 29 Syawal 1446 H / 28 April 2025), puasa ini tetap bisa dilakukan.
Disarankan untuk berpuasa di hari-hari yang dianjurkan dalam Islam, seperti hari Senin, Kamis, atau Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah).
Puasa Syawal, seperti ibadah puasa lainnya, dimulai dengan niat. Niat ini bisa diucapkan sejak malam hari, atau jika belum, boleh dilafalkan di siang hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Niat Puasa Syawal (malam hari):
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnatisy Syawwāli lillāhi ta‘ālā.
Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah ta‘ala."
Niat Puasa Syawal (siang hari):
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hādzal yaumi ‘an adā’i sunnatisy Syawwāli lillāhi ta‘ālā.
Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah ta‘ala."