• KEISLAMAN

Sikap Bijak Saat Mendengar Berita Buruk

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Sabtu, 29/03/2025
Sikap Bijak Saat Mendengar Berita Buruk Ilustrasi (Foto: Merdeka)

Terasmuslim.com - Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada berbagai informasi, termasuk kabar yang kurang menyenangkan. Banyak orang secara refleks akan mendengarkan berita buruk dengan penuh perhatian, bahkan ikut larut dalam pembahasan yang tidak selalu membawa manfaat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa berita negatif memiliki daya tarik tersendiri, seringkali memicu diskusi panjang dan bahkan perdebatan, tanpa mempertimbangkan kebenaran informasi yang disampaikan.

Terkait hal ini, Syekh Ali Jaber memberikan panduan tentang bagaimana seorang mukmin seharusnya bersikap ketika dihadapkan pada berita yang mengandung keburukan atau fitnah.

Menurutnya, seorang mukmin harus berhati-hati dalam menerima setiap informasi. Jika kabar yang diterima berisi kebaikan, maka mendengarkannya diperbolehkan. Namun, jika berita tersebut hanya berisi keburukan atau fitnah, maka sebaiknya tidak didengarkan.

"Jika yang disampaikan adalah sesuatu yang baik, silahkan dengarkan. Namun, jika mengandung keburukan atau fitnah, cukup katakan pada pembawanya untuk berhenti berbicara," ujar Syekh Ali Jaber dalam sebuah kajian yang disiarkan di kanal YouTube @M.aliudin1047.

Ia menegaskan bahwa seorang mukmin harus berani mengambil sikap tegas dalam menghadapi penyebaran berita buruk. Dengan menolak mendengarkan informasi yang tidak bermanfaat atau bahkan berpotensi menimbulkan fitnah, seseorang telah berusaha menjaga hatinya tetap bersih dari pengaruh negatif.

Sering kali, ada orang yang datang membawa berita yang berisi keburukan tentang orang lain, bahkan terhadap tokoh agama. Syekh Ali Jaber mengungkapkan bahwa ia sendiri sering menerima laporan-laporan seperti ini, di mana seseorang datang membicarakan keburukan seorang kiai atau ustaz.

Namun, dalam setiap kesempatan, beliau selalu memilih untuk tidak mendengarkan dan dengan tegas meminta pembawa berita tersebut untuk diam. Baginya, menjaga hati dari pengaruh negatif jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengetahui kesalahan orang lain.

"Saya tidak perlu tahu tentang keburukan orang lain. Saya lebih memilih untuk fokus pada hubungan saya dengan Allah," tegasnya.

Lebih lanjut, Syekh Ali Jaber menekankan bahwa terlalu sering mendengar berita buruk dapat membawa dampak negatif, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Mendengarkan fitnah bisa membuat seseorang tanpa sadar turut menyebarkan kabar tersebut, sehingga menjadi bagian dari rantai penyebaran keburukan.

Banyak orang berdalih bahwa mereka hanya ingin memberi peringatan agar orang lain berhati-hati. Namun, Syekh Ali Jaber menekankan bahwa bentuk kehati-hatian yang sesungguhnya adalah dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah, bukan dengan membahas keburukan orang lain.

Ia mengingatkan bahwa yang seharusnya ditakuti bukanlah manusia, tetapi siksa dari Allah. Oleh karena itu, menjaga lisan dan menolak untuk terlibat dalam pembicaraan negatif adalah langkah yang penting bagi seorang mukmin.

Sebagai penutup, Syekh Ali Jaber mengajak umat Islam untuk lebih fokus pada introspeksi diri dan ibadah, daripada sibuk menyoroti kesalahan orang lain. Dengan menjaga hati dan lisan dari berita buruk, seseorang akan lebih mudah meraih ketenangan dan keberkahan dalam hidupnya.