• KEISLAMAN

Hati-Hati Ghibah Saat Puasa Pahala Bisa Hilang Sia-Sia

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Rabu, 26/03/2025
Hati-Hati Ghibah Saat Puasa Pahala Bisa Hilang Sia-Sia Ustadz Adi Hidayat ( Foto: Screenshoot YouTube Adi Hidayat Official)

Terasmuslim.com - Puasa di bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan diri dari segala hal yang bisa merusak nilai ibadah. Salah satu dosa yang kerap diabaikan adalah ghibah atau menggunjing orang lain.

Ustadz Adi Hidayat (UAH) menegaskan bahwa ghibah termasuk perbuatan yang dapat mengurangi, bahkan menghilangkan pahala puasa. Meskipun seseorang berpuasa seharian penuh, jika masih suka membicarakan keburukan orang lain, maka puasanya bisa sia-sia.

"Nabi pernah bersabda, ada orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan haus. Mengapa? Karena akhlaknya buruk, lisannya tidak terjaga," ujar UAH dalam sebuah kajian.

Ghibah termasuk dalam kategori mufsidat, yaitu hal-hal yang merusak pahala puasa meskipun tidak membatalkannya secara langsung. Sayangnya, banyak orang lebih fokus pada hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik, tetapi abai terhadap hal-hal yang merusak nilai ibadahnya.

"Puasa bukan sekedar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga akhlak. Jangan sampai ibadah kita batal secara maknawi," kata UAH dalam tayangan di kanal YouTube @suasvideos.

Dalam Islam, ghibah didefinisikan sebagai membicarakan keburukan orang lain di belakangnya, meskipun yang dikatakan itu benar. Jika yang dibicarakan tidak benar, maka perbuatan tersebut masuk dalam kategori fitnah, yang dosanya lebih besar.

Ghibah sering kali dilakukan tanpa disadari, baik dalam percakapan santai, di media sosial, atau bahkan dalam diskusi ringan. Padahal, dampaknya sangat besar terhadap amal ibadah seseorang.

"Kalau makan dan minum jelas membatalkan puasa. Tapi kalau ghibah, mencela, itu yang sering tidak disadari. Padahal, itu yang merusak dan mengurangi pahala puasa," lanjutnya.

Dalam Al-Qur`an, ghibah diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal. Perumpamaan ini menunjukkan betapa buruknya perbuatan tersebut dalam pandangan Islam.

Sebagai seorang muslim yang berpuasa, menjaga lisan adalah bagian penting dari ibadah. Puasa bukan hanya latihan fisik, tetapi juga latihan spiritual dalam menahan hawa nafsu, termasuk nafsu berbicara yang tidak bermanfaat.

Jika seseorang tetap melakukan ghibah saat berpuasa, maka ia hanya akan mendapatkan rasa lapar dan dahaga tanpa pahala yang sempurna. Ini tentu menjadi kerugian besar bagi siapa pun yang menjalankan ibadah ini. Selain ghibah, kebiasaan buruk seperti mencela, menghina, dan berkata kasar juga harus dihindari karena bisa mengurangi bahkan menghapus pahala puasa seseorang.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah mengajarkan bahwa jika ada orang yang mengajak bertengkar saat kita berpuasa, maka cukup katakan, "Aku sedang berpuasa." Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga lisan dan emosi selama menjalankan ibadah.

Ramadan seharusnya menjadi momen untuk memperbaiki diri, bukan sekadar menahan lapar dan haus tanpa adanya perubahan akhlak yang lebih baik. Bagi yang masih sulit menahan diri dari ghibah, ada baiknya menghindari lingkungan atau percakapan yang berpotensi menyeret ke dalam perbuatan tersebut. Diam lebih baik daripada berbicara tetapi merugikan diri sendiri.

Mengisi waktu dengan membaca Al-Qur`an, berdzikir, atau melakukan amal baik lainnya bisa menjadi cara efektif untuk menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat. Setiap muslim juga perlu mengingat bahwa setiap kata yang keluar dari lisan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Jika ingin puasanya sempurna, maka harus dijaga dari segala hal yang bisa mengurangi pahalanya. Jangan sampai menahan lapar dan haus, tetapi justru kehilangan pahala karena tidak bisa menjaga lisan.

Dengan memahami bahaya ghibah dan dampaknya terhadap puasa, semoga umat Islam bisa menjalankan ibadah ini dengan lebih baik dan mendapatkan keberkahan yang maksimal.