• KEISLAMAN

Rajin Puasa dan Sholat Tapi Masuk Neraka, Buya Yahya Ungkap Sebabnya

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Rabu, 26/03/2025
Rajin Puasa dan Sholat Tapi Masuk Neraka, Buya Yahya Ungkap Sebabnya Buya Yahya (Foto: liputan6)

Terasmuslim.com - Dalam Islam, ibadah bukan hanya soal menjalankan kewajiban seperti sholat dan puasa, tetapi juga harus dibarengi dengan akhlak yang baik terhadap sesama. Sebanyak apa pun ibadah yang dilakukan seseorang, jika tidak disertai dengan sikap yang baik, maka ibadah tersebut bisa kehilangan nilainya.

Banyak orang mengira bahwa cukup dengan menjalankan ritual keagamaan, maka urusan akhiratnya akan terjamin. Padahal, dalam ajaran Islam, hubungan baik dengan sesama manusia juga sangat menentukan nasib seseorang di akhirat.

KH Yahya Zainul Ma`arif atau Buya Yahya, seorang ulama yang sering menyampaikan nasihat tentang akhlak dan ibadah, pernah mengisahkan sebuah peristiwa di zaman Nabi Muhammad SAW. Kisah ini menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan seseorang harus selaras dengan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kajiannya yang dikutip dari kanal YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya menceritakan bahwa pada masa Rasulullah, ada seorang perempuan yang dikenal sebagai ahli ibadah. "Dia rajin berpuasa, sering bangun malam untuk sholat, dan ibadahnya luar biasa," ungkapnya.

Namun, ada satu hal yang mencoreng keutamaan ibadahnya. "Orang-orang memberi tambahan keterangan kepada Rasulullah, `Ya Rasulullah, tetapi dia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya,’" lanjut Buya Yahya.

Menanggapi hal itu, Nabi Muhammad SAW memberikan jawaban yang mengejutkan. "La khaira fiha, tidak ada kebaikan dalam dirinya. Dia adalah ahli neraka," sabda Rasulullah SAW.

Buya Yahya menekankan bahwa jawaban Rasulullah tersebut menjadi bukti betapa pentingnya menjaga lisan dan hubungan sosial. Seorang muslim tidak cukup hanya memperbanyak ibadah, tetapi juga harus menjaga akhlaknya agar tidak merugikan orang lain.

"Ada yang beranggapan bahwa yang penting rajin beribadah, padahal kalau lisannya suka melukai hati orang lain, ibadahnya bisa tidak berarti," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan sikap baik kepada sesama adalah kunci utama dalam Islam. Tidak ada gunanya ibadah yang rajin jika di saat yang sama seseorang gemar menyakiti orang lain.

"Seseorang bisa saja taat dalam ibadah, tetapi jika ucapannya kasar dan menyakitkan, maka ia tetap bisa celaka," tegas Buya Yahya.

Ia juga mengingatkan bahwa lisan merupakan bagian tubuh yang sering menjerumuskan manusia dalam kebinasaan. Oleh karena itu, seorang muslim harus senantiasa berhati-hati dalam berbicara.

"Banyak orang masuk neraka bukan karena kurang ibadah, tetapi karena lisannya yang tajam dan suka menyakiti orang lain," ujarnya.

Lebih lanjut, Buya Yahya menjelaskan bahwa hubungan sosial tidak bisa diabaikan dalam Islam. Rasulullah SAW bahkan menyebutkan bahwa ada orang yang terlihat kaya pahala di dunia, tetapi di akhirat malah bangkrut akibat kesalahan-kesalahan terhadap sesama.

"Mereka yang di dunia rajin ibadah tetapi gemar menyakiti orang lain, mengambil hak orang lain, bisa kehilangan seluruh amalnya untuk membayar kesalahannya di akhirat," ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk tidak hanya fokus pada ibadah pribadi, tetapi juga memperbaiki interaksi dengan sesama.

"Agar ibadah kita diterima, pastikan tidak ada orang yang tersakiti oleh lisan dan perbuatan kita," pesannya.

Buya Yahya juga menekankan bahwa menjaga lisan adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat besar. Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan pentingnya berkata baik atau diam jika tidak ada yang bermanfaat untuk diucapkan.

"Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.’ Ini adalah prinsip penting yang harus kita pegang," jelasnya.

Ia pun mengajak umat Islam untuk selalu introspeksi diri agar tidak merasa sudah cukup dalam beribadah, tetapi justru melupakan akhlak terhadap orang lain.

"Jangan sampai kita rajin sholat dan puasa, tetapi malah menjadi ahli neraka karena lisan kita sendiri," tuturnya.

Menutup kajiannya, Buya Yahya mengingatkan bahwa ibadah yang telah dilakukan dengan susah payah bisa menjadi sia-sia jika seseorang tidak menjaga akhlaknya kepada sesama.

"Mari kita perbaiki diri. Tidak cukup hanya beribadah, tetapi pastikan juga kita tidak menjadi penyebab kesedihan orang lain," pungkasnya.