Ilustrasi Wafatnya Sayyidina Ali (Foto: Radar Hukum)
Terasmuslim.com - Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah sosok pemimpin yang dikenal dengan kebijaksanaan, keberanian, dan kesabarannya. Bahkan di saat dirinya diserang dengan keji oleh Abdurrahman bin Muljam, ia tetap menunjukkan akhlak yang luhur.
Peristiwa tragis ini terjadi pada 21 Ramadan 40 Hijriyah, ketika Sayyidina Ali sedang melaksanakan salat Subuh di Masjid Kufah. Saat beliau sujud, Ibnu Muljam, seorang dari kelompok Khawarij, tiba-tiba menyerangnya dengan pedang yang telah dilumuri racun. Serangan itu melukai kepala Sayyidina Ali dengan parah, membuatnya terjatuh dan dalam kondisi kritis.
Namun, dalam keadaan lemah dan kesakitan, Sayyidina Ali tetap menunjukkan ketegaran dan kesabaran luar biasa. Beliau tidak serta-merta memerintahkan pembalasan terhadap pelakunya. Justru, ketika Ibnu Muljam ditangkap dan dibawa ke hadapannya, Sayyidina Ali meminta agar pelaku diperlakukan dengan adil.
Salah satu bukti kebesaran hati Sayyidina Ali adalah ketika ia meminta keluarganya untuk memberikan makanan yang sama kepada Ibnu Muljam, sebagaimana yang ia makan sendiri. Beliau tidak ingin adanya tindakan kejam atau balas dendam terhadap orang yang telah menusuknya.
Meskipun dalam kondisi sekarat, Sayyidina Ali masih mengingatkan keluarganya agar memperlakukan Ibnu Muljam dengan adil. Jika ia meninggal akibat luka tersebut, maka pembalasan harus sesuai dengan hukum Islam, tanpa penyiksaan berlebihan. Namun, jika ia selamat, maka ia akan memutuskan sendiri hukumannya.
Dua hari setelah kejadian itu, Sayyidina Ali akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam, tetapi juga menjadi teladan luar biasa tentang kesabaran, keadilan, dan kasih sayang, bahkan terhadap musuhnya sendiri. Hingga kini, kisah ini tetap dikenang sebagai salah satu contoh akhlak mulia yang harus diteladani oleh seluruh umat Islam.