Ilustrasi kenakalan remaja (Foto: detik)
Terasmuslim.com - Ramadan selalu datang dengan gegap gempita. Spanduk bertuliskan Marhaban ya Ramadan menghiasi sudut-sudut kota, lantunan tadarus menggema dari masjid-masjid, dan umat Islam berlomba-lomba mengumpulkan pahala. Bulan ini disebut sebagai bulan penuh berkah, bulan yang suci.
Namun, di sisi lain, ada realitas berbeda yang sering luput dari perhatian. Ketika sebagian umat khusyuk dalam ibadah, di jalanan terjadi balapan liar, di gang-gang sempit tawuran meletus, dan tak jarang kekerasan itu berujung tragis. Ironi Ramadan, dimana sebagian bersujud dalam doa, sementara sebagian lainnya tersungkur di aspal akibat bentrokan.
Seperti biasa, jari telunjuk langsung mengarah kepada para remaja. Mereka dianggap tak tahu diri, tak bisa memaknai Ramadan, biang kerusuhan, dan generasi yang gagal. Tapi, apakah memang sepenuhnya salah mereka? Atau justru mereka adalah produk dari lingkungan dan sistem yang tak memberi ruang bagi mereka untuk berkembang dengan baik?
Dari kacamata sosiologi, perilaku remaja tidak lahir begitu saja. Mereka dibentuk oleh keluarga, masyarakat, dan sistem sosial di sekitarnya. Sayangnya, di bulan Ramadan, banyak orang tua yang sibuk mengejar ibadah individual, meninggalkan anak-anak mereka mencari kesibukan sendiri.
Harapan mereka, para remaja akan otomatis tertarik mengikuti kajian dan ritual keagamaan. Namun, dunia sudah berubah. Cara lama yang kaku dan monoton semakin terasa usang di mata anak muda.
Kajian yang membosankan, ceramah yang terasa seperti aturan ketat, serta kurangnya ruang ekspresi bagi mereka membuat Ramadan tak lagi menarik. Dalam kebosanan itu, mereka mencari keseruan lain, meskipun itu berarti melibatkan diri dalam aksi yang dianggap menyimpang. Fenomena ini seharusnya menjadi alarm bagi kita semua bukan untuk sekedar menghakimi, tetapi untuk mencari solusi.
Jadi, bagaimana cara mengubah ini? Ramadan harus lebih inklusif dan relevan dengan generasi muda. Bukan berarti menghilangkan tradisi, tetapi menyesuaikannya dengan perkembangan zaman. Daripada hanya memberi ceramah panjang soal dosa dan pahala, mengapa tidak mengajak mereka berpartisipasi dalam kegiatan yang mereka sukai?
Festival musik Islami, lomba cover shalawat, tantangan Ramadan di media sosial, atau turnamen futsal malam bisa menjadi wadah yang lebih menarik bagi mereka. Dengan demikian, Ramadan bukan hanya tentang larangan, tetapi juga tentang keterlibatan dan kebersamaan.
Para tokoh agama pun perlu mengadaptasi cara berdakwah agar lebih relevan. Jika dakwah terus disampaikan dengan metode lama tanpa inovasi, jangan heran jika anak muda semakin menjauh. Sudah waktunya kita memahami bahwa mendekatkan diri kepada Tuhan tidak hanya bisa dilakukan dengan satu cara saja. Ramadan harus menjadi momen yang merangkul, bukan membatasi.
Pertanyaannya sekarang, apakah generasi tua siap untuk mengubah pendekatan mereka? Apakah kita bersedia memberikan ruang bagi anak muda untuk menjalani Ramadan dengan cara yang mereka pahami? Ataukah kita tetap berkeras bahwa hanya cara kita yang benar, sementara mereka yang berbeda dianggap salah?
Ramadan bisa menjadi bulan keberkahan atau justru bulan yang dipenuhi oleh sirine ambulans semua tergantung pada kita. Jika kita ingin para remaja menemukan jalan yang benar, maka tugas kita bukan hanya memberi arahan, tetapi juga berjalan bersama mereka.