Ilustrasi foto riya pamer harta
Terasmuslim.com - Dalam pandangan Islam, kekayaan bukan semata-mata nikmat, melainkan juga ujian yang berat. Allah Ta’ala menegaskan bahwa manusia akan diuji dengan kebaikan dan keburukan, sebagaimana firman-Nya, “Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” (QS. Al-Anbiya: 35). Banyak orang tampak sabar ketika miskin, namun justru lalai, sombong, dan jauh dari Allah ketika diberi kelapangan rezeki. Inilah tanda bahwa ujian kekayaan sering kali lebih berat dibanding ujian kesempitan.
Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa harta dapat melalaikan manusia dari mengingat Allah jika tidak disikapi dengan iman. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah” (QS. Al-Munafiqun: 9). Ayat ini menunjukkan bahwa kegagalan dalam ujian kekayaan terjadi ketika harta menjadikan seseorang cinta dunia, bakhil, serta enggan menunaikan kewajiban seperti zakat, infak, dan sedekah.
Rasulullah ﷺ pun memperingatkan bahaya fitnah kekayaan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menjelaskan bahwa harta bisa menjadi sebab kebinasaan apabila tidak dikelola dengan rasa syukur dan amanah. Banyak orang terjerumus dalam riba, korupsi, penipuan, serta gaya hidup berlebihan demi mempertahankan dan menambah kekayaan.
Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar seorang muslim menyikapi kekayaan dengan syukur, tawadhu, dan ketaatan. Harta seharusnya mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjauhkan. Dengan menyadari bahwa kekayaan hanyalah titipan dan akan dimintai pertanggungjawaban, seorang mukmin dapat lulus dari ujian ini. Allah berjanji, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7), yakni tambahan keberkahan dunia dan keselamatan di akhirat.