• KEISLAMAN

Cerai Karena `Ain`? Memahami Pengaruh Pandangan Hasad dalam Rumah Tangga

Yahya Sukamdani | Senin, 08/09/2025
Cerai Karena `Ain`? Memahami Pengaruh Pandangan Hasad dalam Rumah Tangga Ilustrasi suami istri bertengkar

Terasmuslim.com - Dalam tradisi Islam, dikenal istilah ‘ain yang berarti pengaruh buruk dari pandangan mata penuh hasad atau iri hati. Rasulullah ﷺ sendiri pernah bersabda, “Al-‘ain haq (pengaruh ‘ain itu nyata adanya).” Artinya, pandangan dengki seseorang bisa membawa dampak negatif pada kehidupan orang lain, baik berupa sakit, kesulitan rezeki, hingga terganggunya keharmonisan rumah tangga.

Dalam konteks rumah tangga, sebagian pasangan suami istri mengalami perceraian bukan semata-mata karena faktor internal seperti perselisihan, ekonomi, atau komunikasi, melainkan dipengaruhi unsur luar berupa ‘ain. Misalnya, kebahagiaan yang ditunjukkan berlebihan di media sosial, cerita tentang kemesraan yang diumbar ke khalayak, atau sikap pamer yang memicu iri hati orang lain. Tatkala energi negatif ini tidak diimbangi dengan perlindungan doa dan dzikir, rumah tangga bisa diuji dengan pertengkaran yang tiba-tiba, kecurigaan tanpa sebab, hingga perasaan tidak nyaman satu sama lain.

Para ulama menjelaskan bahwa ‘ain bekerja melalui jalan batin: pandangan iri dapat melemahkan ketentraman hati, membuka celah bagi syaitan untuk menyalakan api permusuhan di antara pasangan. Di sinilah perlunya benteng spiritual berupa doa perlindungan, seperti membaca Al-Mu’awwidzat (Al-Falaq dan An-Nas), menjaga aurat kebahagiaan rumah tangga agar tidak diumbar sembarangan, serta memperbanyak doa agar dijauhkan dari keburukan orang-orang yang hasad.

Meski demikian, perceraian akibat ‘ain tidak bisa dilepaskan dari faktor manusiawi. Artinya, ‘ain mungkin menjadi pemicu, tetapi keputusan bercerai tetap lahir dari kondisi rapuhnya komunikasi, kurangnya kesabaran, atau lemahnya ikatan iman. Dengan kata lain, ‘ain dapat membuka pintu, namun manusialah yang menentukan apakah pintu itu dibiarkan terbuka atau dijaga dengan iman, doa, dan sikap bijak.

Fenomena ini menjadi pengingat bagi pasangan muslim untuk lebih berhati-hati menjaga privasi rumah tangga, tidak berlebihan menampakkan kebahagiaan, dan selalu memperkuat ikatan dengan Allah. Sebab, kebahagiaan sejati tidak butuh pengakuan publik, melainkan keberkahan dalam kesunyian doa.