Buya Yahya (Foto: liputan6)
Terasmuslim.com - Hari kiamat merupakan kenyataan yang pasti dalam Islam. Meskipun tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui secara pasti kapan kehancuran semesta itu akan tiba, Allah SWT telah menegaskan kepastian peristiwanya dalam berbagai ayat Al-Qur`an, termasuk dalam Surah Al-Hajj ayat 7:
وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ
Artinya: “Dan sungguh, Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.”
Dalam ajaran Islam, munculnya hari akhir akan didahului oleh sejumlah tanda, yang terbagi menjadi dua kategori: tanda-tanda kecil (sughra) dan tanda-tanda besar (kubra).
Ulama kharismatik asal Cirebon, KH Yahya Zainul Ma`arif atau yang dikenal dengan Buya Yahya, menjelaskan bahwa tanda-tanda besar kiamat antara lain adalah kemunculan Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Nabi Isa AS, matahari terbit dari arah barat, serta keluarnya api dari daerah Aden.
Menurut Buya Yahya, dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyyah, kehadiran Nabi Muhammad SAW sendiri sudah termasuk tanda kecil kiamat. Selain itu, menjamurnya bangunan megah, meningkatnya populasi perempuan, serta meluasnya kemaksiatan juga merupakan bagian dari tanda-tanda sughra.
Beliau juga menegaskan bahwa kemunculan Imam Mahdi merupakan salah satu tanda besar kiamat. “Jika Imam Mahdi sudah datang, maka saat itu kiamat sudah sangat dekat,” tutur beliau dalam ceramahnya di kanal YouTube Al Bahjah TV.
Meski demikian, tidak semua riwayat tentang Imam Mahdi memiliki tingkat keabsahan yang kuat. Hal ini dijelaskan oleh Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi melalui NU Online. Beliau menyoroti bahwa banyak hadits mengenai Imam Mahdi yang statusnya lemah (dhaif), dan sebagian perawinya diragukan integritasnya.
Namun, sebagian ulama tetap menerima kemunculan Imam Mahdi sebagai keyakinan yang berdasar. Misalnya, dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, ulama hadits al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa walaupun mayoritas hadits mengenai Imam Mahdi tergolong dhaif, namun hadits-hadits itu memiliki syawahid (penguat) yang menjadikannya dapat dijadikan hujah.
Salah satu hadits yang cukup terkenal terkait hal ini adalah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ عَبْدِ الله قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمْلِكَ الْعَرَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي
Artinya: “Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah bersabda, ‘Dunia tidak akan berakhir sampai orang Arab dipimpin oleh seorang laki-laki dari keluargaku, yang namanya sama dengan namaku.’” (HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini, menurut At-Tirmidzi, tergolong hasan sahih dan dijadikan dasar oleh sebagian ulama sebagai bukti akan kemunculan Imam Mahdi menjelang kiamat.
Riwayat serupa juga ditemukan dalam Sunan Abu Daud, dengan tambahan informasi tentang nama ayah Imam Mahdi:
يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِي
Artinya: “Namanya sesuai dengan namaku dan nama ayahnya sesuai dengan nama ayahku.”
Dari hadits ini, para ulama menyimpulkan bahwa nama Imam Mahdi adalah Muhammad bin Abdullah, seperti nama Rasulullah SAW dan ayah beliau.
Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa ciri fisik Imam Mahdi antara lain memiliki dahi yang lebar dan hidung yang mancung. Hal ini tertulis dalam riwayat Abu Daud.
Tidak hanya At-Tirmidzi dan Abu Daud, hadits-hadits mengenai al-Mahdi juga diriwayatkan oleh tokoh-tokoh hadits lain seperti Ibnu Majah, Al-Hakim, Abu Ya’la, dan Al-Thabarani. Periwayatannya berasal dari para sahabat mulia seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Ummu Salamah. Namun demikian, kualitas sanad hadits-hadits tersebut sangat beragam ada yang sahih, hasan, hingga dhaif.