• KEISLAMAN

Benarkah Tanda Hitam di Dahi Karena Sujud Menunjukkan Keshalihan?

Yahya Sukamdani | Senin, 09/03/2026
Benarkah Tanda Hitam di Dahi Karena Sujud Menunjukkan Keshalihan? Ilustrasi foto bekas sujud

Terasmuslim.com - Di tengah masyarakat Muslim sering dijumpai anggapan bahwa tanda hitam atau bekas di dahi karena sering sujud merupakan tanda kesalehan seseorang. Bekas tersebut kerap disebut sebagai “tanda ahli ibadah” karena dianggap muncul akibat seringnya seseorang melakukan shalat dan bersujud kepada Allah SWT. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah benar ada dalil yang secara jelas menyatakan bahwa bekas tersebut merupakan tanda orang-orang shalih?

Sebagian orang merujuk pada firman Allah SWT dalam QS. Al-Fath ayat 29, “Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.” Ayat ini sering dipahami sebagai tanda fisik di dahi akibat seringnya bersujud. Padahal para ulama tafsir menjelaskan bahwa makna ayat ini tidak semata-mata merujuk pada bekas hitam secara fisik, melainkan cahaya, ketenangan, dan wibawa yang terpancar dari wajah orang-orang yang rajin beribadah.

Sejumlah ulama seperti Imam An-Nawawi dan para ahli tafsir menjelaskan bahwa bekas yang dimaksud dalam ayat tersebut lebih kepada pengaruh ibadah terhadap akhlak dan wajah seorang mukmin. Orang yang banyak bersujud biasanya memiliki wajah yang tenang, bersih, dan memancarkan ketundukan kepada Allah SWT. Dengan kata lain, tanda tersebut lebih bersifat spiritual dan moral, bukan sekadar tanda fisik pada dahi.

Bahkan sebagian ulama mengingatkan agar seseorang tidak sengaja menekan dahinya dengan keras saat sujud untuk menimbulkan bekas. Perbuatan seperti itu justru tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan riya atau pamer ibadah. Rasulullah SAW sangat menekankan keikhlasan dalam ibadah, sebagaimana sabda beliau, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil,” yaitu riya dalam beramal.

Dalam beberapa riwayat juga disebutkan bahwa para sahabat Nabi tidak menjadikan bekas di dahi sebagai ukuran kesalehan seseorang. Kesalehan dalam Islam lebih diukur dari keikhlasan, ketakwaan, serta konsistensi dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Allah SWT sendiri menegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa.

Dengan demikian, bekas di dahi akibat sujud tidak dapat dijadikan ukuran pasti bahwa seseorang adalah orang shalih. Jika bekas itu muncul secara alami tanpa dibuat-buat, maka hal itu hanyalah dampak fisik dari ibadah. Yang menjadi ukuran utama dalam Islam tetaplah ketakwaan, keikhlasan, dan akhlak mulia yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.