KEISLAMAN

Benarkah Bulan Safar Penuh dengan Kesialan?

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Rabu, 01/07/2026
Kepercayaan tersebut telah berkembang secara turun-temurun di berbagai daerah. Ilustrasi - bulan Safar (Foto: Ist)

Jakarta, Terasmuslim.com - Tinggal beberapa hari kita akan memasuki bulan Safar dalam kalender Hijriah.

Masih banyak masyarakat yang mempercayai bahwa bulan ini identik dengan kesialan, musibah, atau waktu yang tidak baik untuk menggelar pernikahan, memulai usaha, hingga bepergian jauh.

Kepercayaan tersebut telah berkembang secara turun-temurun di berbagai daerah.

Sejumlah ulama menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dalam syariat Islam.

Baca juga :

Justru Rasulullah SAW secara tegas membantah keyakinan masyarakat Arab Jahiliah yang menganggap bulan Safar sebagai bulan pembawa sial.

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab memiliki berbagai kepercayaan yang dikategorikan sebagai takhayul.

Salah satunya adalah menganggap bulan Safar sebagai waktu yang membawa malapetaka sehingga mereka menghindari berbagai aktivitas penting pada bulan tersebut.

Kepercayaan serupa masih dijumpai hingga kini. Sebagian orang bahkan meyakini bahwa Rabu terakhir di bulan Safar merupakan hari turunnya bencana atau bala sehingga perlu dilakukan ritual tertentu untuk menolaknya.

Padahal, keyakinan seperti ini tidak memiliki landasan dari Al-Qur`an maupun hadis sahih.

Dalil yang paling sering dijadikan rujukan adalah hadis dari Abu Hurairah RA.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Lā `adwā wa lā ṭiyarata wa lā hāmata wa lā ṣafar.

Artinya: "Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak ada anggapan sial karena tanda tertentu, tidak ada kepercayaan tentang burung hantu pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW menghapus keyakinan masyarakat Jahiliah yang mengaitkan nasib buruk dengan bulan tertentu.

Menurut para ulama, frasa "la shafar" dalam hadis itu berarti tidak ada kesialan yang melekat pada bulan Safar.

Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berada dalam ketetapan Allah SWT, bukan karena pengaruh bulan, hari, atau benda tertentu.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 22:

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya."

Ayat tersebut menjadi dasar bahwa musibah maupun keberuntungan tidak ditentukan oleh datangnya bulan Safar, melainkan merupakan bagian dari takdir Allah SWT.

Berdasarkan ajaran Islam, tidak ada larangan untuk melangsungkan pernikahan, membuka usaha, bepergian, membangun rumah, atau melakukan aktivitas penting lainnya pada bulan Safar.

Bahkan, sejarah Islam mencatat sejumlah peristiwa penting yang terjadi pada bulan Safar. Hal ini semakin menunjukkan bahwa bulan tersebut tidak memiliki kaitan dengan kesialan maupun kemalangan sebagaimana anggapan sebagian masyarakat.

TAGS : Info Keislaman Bulan Safar Bulan Sial Rasulullah SAW Agama Islam

Terkini