
Ilustrasi pasien dan tenaga medis
Terasmuslim.com - Banyak orang salah memahami konsep takdir dengan hanya pasrah tanpa melakukan usaha saat sakit.
Padahal, mengupayakan kesembuhan lewat jalur pengobatan medis juga merupakan bagian dari takdir Allah Ta`ala.
Islam mengajarkan bahwa setiap sebab dan akibat di dunia ini bergerak di bawah ketetapan-Nya.
Allah Ta’ala telah mengisyaratkan pentingnya menjaga diri dan berikhtiar dalam Al-Qur`an Surat Al-Baqarah ayat 195:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195).
Ayat ini menjadi dasar bahwa membiarkan tubuh rusak tanpa usaha mengobati adalah hal yang dilarang.
Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu `anhu pernah mencontohkan prinsip ini saat menghindari daerah yang terkena wabah.
Ketika ditanya apakah beliau lari dari takdir, Umar menjawab bahwa beliau berpindah dari satu takdir ke takdir Allah yang lain.
Prinsip tersebut sejalan dengan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya untuk aktif berobat.
Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan kewajiban berikhtiar ini:
“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, maka berobatlah kamu dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Dawud).
Hadits mulia ini membuktikan bahwa syariat Islam tidak pernah memisahkan antara iman dan usaha nyata.
Sakit adalah takdir yang Allah berikan sebagai ujian, sedangkan berobat adalah takdir yang Allah perintahkan sebagai jalan keluar.
Menolak untuk berobat dengan dalih pasrah pada takdir justru mencerminkan pemahaman agama yang keliru.
Sikap tawakal yang benar adalah melakukan usaha terbaik, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada ketetapan Ilahi.
Dengan memahami konsep ini, seorang Muslim tidak akan pernah putus asa dalam menghadapi ujian kesehatan.
Semoga kita termasuk hamba yang bijak dalam menyelaraskan antara ikhtiar medis dan keyakinan tauhid.
TAGS : konsep takdir tawakal saat sakit ikhtiar medis