KEISLAMAN

Puasa Syawal atau Qadha, Mana Lebih Utama?

Yahya Sukamdani| Rabu, 25/03/2026
Dahulukan qadha sebelum Syawal, pahami prioritas ibadah sesuai tuntunan syariat Islam dengan benar Ilustrasi foto berbuka puasa

Terasmuslim.com - Setelah Ramadhan berlalu, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkan ibadah dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Namun, muncul pertanyaan penting: mana yang lebih utama antara puasa Syawal atau mengganti (qadha) puasa Ramadhan yang tertinggal? Dalam perspektif syariat, pertanyaan ini tidak sekadar soal pilihan, tetapi menyangkut prioritas antara kewajiban dan sunnah.

Kaidah dasar dalam Islam menegaskan bahwa ibadah wajib harus lebih didahulukan daripada ibadah sunnah. Puasa qadha Ramadhan merupakan kewajiban bagi mereka yang meninggalkan puasa karena uzur seperti sakit, safar, haid, atau sebab lainnya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa siapa yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka wajib menggantinya di hari lain.

Ini menunjukkan bahwa qadha adalah tanggungan yang harus segera ditunaikan. Mengabaikan kewajiban ini tanpa alasan yang dibenarkan termasuk bentuk kelalaian terhadap perintah Allah. Sementara itu, puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.”

Keutamaan ini menunjukkan betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi mereka yang menyempurnakan ibadahnya. Namun, kata “kemudian” dalam hadits tersebut menjadi perhatian para ulama sebagai isyarat bahwa puasa Syawal dilakukan setelah menyempurnakan puasa Ramadhan. Dari sini, mayoritas ulama berpendapat bahwa mendahulukan qadha lebih utama dibandingkan puasa Syawal.

Baca juga :

Sebab, seseorang belum dianggap sempurna menunaikan puasa Ramadhan jika masih memiliki hutang puasa. Dengan demikian, secara urutan yang lebih selamat dan sesuai kehati-hatian adalah menyelesaikan qadha terlebih dahulu, baru kemudian melaksanakan puasa Syawal jika masih memungkinkan dalam bulan tersebut.

Meski demikian, sebagian ulama memberikan keringanan bahwa seseorang boleh mendahulukan puasa Syawal, terutama jika khawatir tidak sempat melaksanakannya karena waktu yang terbatas. Pendapat ini biasanya diikuti dengan anjuran agar tetap segera mengqadha puasa setelahnya. Bahkan, ada pula yang berpendapat boleh menggabungkan niat qadha dan Syawal, meskipun pendapat ini masih menjadi perbedaan di kalangan ulama dan tidak menjadi pilihan utama.

Pada akhirnya, sikap terbaik bagi seorang muslim adalah mendahulukan kewajiban sebelum mengejar keutamaan sunnah. Puasa qadha adalah hutang kepada Allah yang harus segera ditunaikan, sedangkan puasa Syawal adalah kesempatan meraih pahala tambahan. Dengan memahami prioritas ini, seorang muslim dapat menjalankan ibadah dengan lebih tertib, bijak, dan sesuai tuntunan syariat, sehingga meraih ridha Allah secara optimal.

TAGS : puasa syawal atau qadha dalil puasa syawal

Terkini