
Ilustrasi foto Sunni dan Syiah
Terasmuslim.com - Perbedaan antara Syiah dan Sunni merupakan bagian dari dinamika sejarah panjang umat Islam. Secara umum, istilah Sunni merujuk kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah, yakni mayoritas umat Islam yang berpegang pada Al-Qur’an, sunnah Rasulullah SAW, serta pemahaman para sahabat. Adapun Syiah pada awalnya berarti kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib dalam persoalan kepemimpinan pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dari persoalan politik inilah kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis dan fikih.
Prinsip perbedaan yang paling mendasar terletak pada konsep kepemimpinan. Sunni meyakini bahwa pemimpin umat (khalifah) dipilih melalui musyawarah sebagaimana terjadi pada pengangkatan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sementara Syiah meyakini konsep imamah, yakni bahwa kepemimpinan adalah hak yang telah ditetapkan secara ilahi bagi keturunan Ali dan Fatimah. Perbedaan ini menjadi fondasi lahirnya perbedaan doktrin berikutnya.
Dalam bidang sumber hukum, Sunni menjadikan Al-Qur’an, sunnah, ijma’ sahabat, dan qiyas sebagai rujukan utama. Syiah juga merujuk kepada Al-Qur’an dan sunnah, namun memiliki kumpulan hadis yang berbeda serta memberi otoritas khusus kepada para imam Ahlul Bait sebagai penafsir utama agama. Hal ini memengaruhi perbedaan dalam sebagian hukum fikih, praktik ibadah, dan pendekatan teologis.
Perbedaan juga tampak dalam sikap terhadap para sahabat. Ahlus Sunnah meyakini keutamaan seluruh sahabat dan menahan diri dari mencela mereka, berdasarkan firman Allah yang memuji kaum Muhajirin dan Anshar. Sebagian kalangan Syiah memiliki pandangan kritis terhadap sebagian sahabat dalam konteks sejarah politik. Isu ini sering menjadi titik sensitif dalam dialog Sunni-Syiah dan membutuhkan kehati-hatian ilmiah serta adab dalam membahasnya.
Meski demikian, penting ditegaskan bahwa baik Sunni maupun Syiah sama-sama mengakui rukun iman, rukun Islam, Al-Qur’an sebagai kitab suci, serta Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi. Dalam banyak aspek ibadah dan akhlak, terdapat kesamaan mendasar sebagai sesama Muslim. Perbedaan yang ada seharusnya tidak serta-merta melahirkan kebencian, tetapi mendorong dialog berbasis ilmu dan hujjah.
Dalam perspektif Islam, perbedaan adalah ujian sekaligus ruang ijtihad. Rasulullah SAW mengingatkan tentang perpecahan umat, namun juga menekankan pentingnya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah. Karena itu, memahami prinsip perbedaan Syiah dan Sunni harus dilakukan dengan ilmu, adil, serta menjauhi provokasi. Sikap bijak adalah menjaga ukhuwah Islamiyah sembari tetap berpegang teguh pada keyakinan yang diyakini paling sesuai dengan dalil yang sahih.