KISAH

Sejarah Sunni dan Syiah di Iran

Yahya Sukamdani| Kamis, 05/03/2026
Iran berubah dari mayoritas Sunni menjadi pusat Syiah dunia melalui sejarah panjang. Ilustrasi foto Sunni dan Syiah

Terasmuslim.com - Iran memiliki sejarah Islam yang panjang dan kompleks yang tak terpisahkan dari sejarah Sunni dan Syiah. Pada masa awal Islam, setelah penaklukan Persia sekitar abad ke-7, wilayah Persia, termasuk yang kini disebut Iran, secara bertahap menerima Islam dan banyak yang mengikuti Sunni, yang pada waktu itu menjadi paham dominan di wilayah Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Perselisihan politik dan teologis yang lebih besar antara Sunni dan Syiah sendiri berakar pada soal kepemimpinan setelah Nabi SAW, di mana Syiah menekankan kepemimpinan keluarga Nabi, terutama Ali dan keturunannya, sedangkan Sunni menerima kepemimpinan sahabat melalui pilihan komunitas. Perpecahan ini menjadi tulang punggung perbedaan mazhab yang bertahan hingga kini.

Perubahan besar dalam lanskap Islam di Iran terjadi pada abad ke-16 Masehi dengan berdirinya Safavid conversion of Iran to Shia Islam. Dinasti Safawi menjadikan Islam Syiah Dua Belas (Twelver) sebagai agama resmi negara di bawah pimpinan Shah Ismail I. Langkah ini didorong oleh kebutuhan politik dan identitas negara baru yang ingin berbeda dari kekuatan tetangganya yang mayoritas Sunni, yaitu Ottoman Empire. Safawid secara sistematis membangun institusi sosio-agama Syiah, mendirikan sekolah-sekolah, dan mengundang ulama Syiah dari luar untuk memperkuat struktur keagamaan tersebut.

Transformasi ini bukan sekadar perubahan demografis tetapi juga politik agama Syiah menjadi identitas negara yang melekat. Dalam kurun dua abad berikutnya, mayoritas penduduk Iran beralih dari Sunni ke Syiah, dengan hanya komunitas Sunni kecil yang tetap bertahan di daerah perbatasan dan wilayah minoritas tertentu. Hal ini telah menjadikan Iran sebagai pusat teologi dan praktek Syiah dunia, dengan sekitar 90% dari total penduduknya mengikuti Syiah Dua Belas, sementara hanya sebagian kecil yang bermazhab Sunni.

Dalam konteks teologi dan praktik, kedua mazhab ini memiliki beberapa kesamaan dalam rukun iman dan syariat, tetapi juga perbedaan penting, seperti konsep kepemimpinan spiritual (Imamah) dalam Syiah yang tidak ditemukan dalam Sunni. Islam Sunni lebih mengakui kepemimpinan berdasarkan ijma (konsensus) para sahabat, sedangkan Syiah menekankan garis keturunan Ahlul Bait sebagai wakil imamat dalam sejarah. Perbedaan ini menunjukkan bagaimana riwayat sejarah membentuk tradisi yang berbeda meskipun keduanya tetap berpegang pada tawhid dan Al-Qur’an yang sama.

Baca juga :

Dalam perkembangan kontemporer, dominasi Syiah di Iran juga memengaruhi struktur politik dan hukum negara. Republik Islam Iran mengintegrasikan otoritas ulama Syiah ke dalam sistem negara, termasuk konsep kepemimpinan religius yang tertinggi (velayat-e faqih), yang tidak dijumpai dalam sistem negara Muslim mayoritas Sunni. Ini mencerminkan bagaimana sejarah bertransformasi menjadi struktur sosial-politik yang khas di Iran, sekaligus menjelaskan dinamika hubungan antara penganut Sunni dan Syiah di kawasan.

Sejarah Sunni dan Syiah di Iran, oleh karena itu, adalah cermin kompleksitas Islam sebagai agama global. Perbedaan mazhab bukan sekadar soal teologis, tetapi melibatkan perjalanan panjang sejarah, politik, dan budaya. Dalam perspektif Islam, perbedaan ini harus dipahami dengan hikmah dan rasa persaudaraan, sebagaimana ayat Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk bersatu dan saling menghormati meskipun berbeda dalam interpretasi karena sesungguhnya hanya kepada Allah kita kembali.

TAGS : sejarah Sunni Syiah Iran Islam Persia

Terkini