Terasmuslim.com - Iran hari ini dikenal sebagai negara Syiah dominan, dengan mayoritas penduduk mengikuti mazhab Syiah Dua Belas, sementara penganut Sunni kini hanya minoritas kecil. Transformasi ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui drama sejarah yang melibatkan tokoh-tokoh kuat dari kedua tradisi Islam. Dalam Islam, perbedaan mazhab semestinya disikapi dengan hikmah dan kesabaran, karena Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa umatnya akan terbagi menjadi banyak golongan namun kita dipanggil untuk tetap saling menghormati.
Salah satu tokoh awal yang sering disebut dalam perjalanan menuju identitas keagamaan Persia adalah Safi‑ad‑Din Ardabili (1252–1334). Beliau adalah seorang guru sufi Sunni dari Ardabil yang mengembangkan tarekat Safaviyya. Garis keturunannya kemudian melahirkan dynasti Safawi yang berperan sangat besar dalam perubahan mazhab di Iran. Pergerakan spiritual yang awalnya Sunni ini kemudian menjadi cikal-cikal kekuatan politik lain yang akhirnya mengadopsi Syiah.
Puncak perubahan datang pada abad ke-16 dengan sosok Ismā‘īl I. Sebagai pendiri Dinasti Safawi, Ismail I tidak hanya menjadi penguasa politik, tetapi juga pemimpin pemikir yang menjadikan Syiah Dua Belas sebagai agama negara Iran. Di bawah pemerintahannya, Syiah dipromosikan melalui kelembagaan politik dan pendidikan, sehingga menjadikan Iran sebagai pusat Syiah dunia. Perubahan ini berdampak besar terhadap struktur sosial dan identitas keagamaan bangsa Persia selanjutnya.
Sinkron dengan itu, dalam ranah keilmuan dan teologi Syiah, Baha al‑Din al‑Amili (1547–1621) muncul sebagai salah satu tokoh penting. Beliau adalah ulama Syiah yang produktif, penulis, dan intelektual yang berpengaruh pada masa emas Safawi. Selain kontribusinya pada teologi, ia juga turut membentuk budaya ilmiah dan arsitektur kota Isfahan yang kemudian menjadi cermin kejayaan Iran Syiah pada zamannya.
Di sisi lain, terdapat pula figur dari tradisi Sunni yang mewakili dinamika keagamaan berbeda. Makhdum Sharifi Shirazi adalah ulama Persia Sunni abad ke-16 yang menjabat Menteri Agama pada masa pemerintahan Ismail II. Ia dikenal karena karya-karyanya yang kritis terhadap Syiah dan akhirnya mencari perlindungan di Kekaisaran Ottoman yang mayoritas Sunni. Keberadaannya menunjukkan bahwa tradisi Sunni Iran tetap bersuara meskipun kemudian posisinya menjadi minoritas.
Tokoh-tokoh ini memberi pelajaran bahwa sejarah Sunni dan Syiah di Iran tidak hanya soal perbedaan teologis, tetapi juga soal interaksi sosial, politik, dan budaya yang panjang. Dalam perspektif Islam rasional, perbedaan bukan untuk dijadikan sumber konflik, tetapi untuk memperkaya pemahaman umat. Sebagaimana Al-Qur’an memerintahkan agar umat Islam bermusyawarah dalam kebaikan dan menghindari permusuhan, kita dapat mengambil hikmah dari perjalanan panjang Iran yang unik ini sebagai bagian dari sejarah besar peradaban Islam.
