
Ilustrasi foto ngabuburit
Terasmuslim.com - Istilah “ngabuburit” begitu populer di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Secara bahasa, ia merujuk pada aktivitas menunggu waktu Maghrib menjelang berbuka puasa. Dalam perspektif Islam, menunggu waktu berbuka bukanlah perkara sia-sia, bahkan termasuk momen yang penuh keberkahan. Rasulullah SAW bersabda bahwa manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka ketika waktunya tiba (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Ini menunjukkan bahwa waktu menjelang Maghrib adalah waktu yang istimewa.
Namun Islam tidak mengenal istilah ngabuburit sebagai ritual khusus, melainkan sebagai bagian dari aktivitas harian yang diisi dengan kebaikan. Allah SWT menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan puasa adalah agar manusia bertakwa. Maka segala aktivitas selama puasa, termasuk menjelang berbuka, hendaknya mengarah pada peningkatan ketakwaan, bukan sekadar menghabiskan waktu.
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa doa orang yang berpuasa saat berbuka adalah mustajab. Karena itu, waktu menjelang Maghrib sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, atau menghadiri majelis ilmu. Ngabuburit yang diisi dengan tilawah, sedekah takjil, atau membantu menyiapkan hidangan berbuka tentu lebih utama daripada sekadar berjalan-jalan tanpa tujuan jelas.
Meski demikian, aktivitas santai seperti berjalan sore atau berolahraga ringan tidaklah terlarang selama tidak melalaikan kewajiban dan tidak membuka pintu maksiat. Islam adalah agama yang seimbang. Selama kegiatan tersebut mubah dan diniatkan untuk menjaga kesehatan atau menyegarkan tubuh agar kuat beribadah malam hari, maka ia bisa bernilai pahala. Kaidahnya, setiap amal tergantung pada niatnya.
Yang perlu diwaspadai adalah jika ngabuburit justru menjadi ajang tabarruj, ikhtilat berlebihan, pemborosan, atau aktivitas yang melalaikan shalat. Jika waktu menjelang Maghrib dihabiskan untuk hal sia-sia, maka ruh puasa menjadi berkurang. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga karena tidak menjaga lisannya dan perbuatannya.
Akhirnya, ngabuburit dalam versi Islam adalah momentum memperbanyak amal, bukan sekadar tradisi budaya. Menanti Maghrib adalah saat yang penuh harap dan doa. Jika diisi dengan ibadah dan kebaikan, ia menjadi ladang pahala. Namun jika diisi dengan kelalaian, ia bisa menggerus nilai puasa itu sendiri. Mari jadikan setiap detik menjelang berbuka sebagai bagian dari perjalanan menuju takwa.