
Ilustrasi kisah inspiratif Rasulullah - lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)
Terasmuslim.com - Kesederhanaan adalah salah satu mahkota akhlak Nabi Muhammad SAW yang paling memukau sejarah. Di saat beliau memimpin umat dan memiliki kesempatan hidup bergelimang harta, Rasulullah justru memilih jalan zuhud dan sederhana. Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-Ahzab: 21 bahwa pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir. Ayat ini menjadi landasan bahwa setiap sisi kehidupan beliau, termasuk kesederhanaannya, adalah contoh yang patut diteladani.
Dalam banyak riwayat sahih disebutkan bahwa rumah Rasulullah SAW sangat sederhana. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengisahkan bahwa terkadang berhari-hari tidak ada api menyala di rumah beliau karena tidak ada makanan yang dimasak, dan mereka hanya bertahan dengan kurma serta air. Padahal jika beliau berdoa, gunung-gunung bisa dijadikan emas untuknya. Namun beliau memilih hidup apa adanya, mengajarkan bahwa kemuliaan tidak terletak pada kemewahan.
Kesederhanaan Rasulullah SAW juga tampak dari pakaian dan tempat tidurnya. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis ketika melihat bekas tikar kasar membekas di tubuh beliau. Umar membandingkan keadaan Rasulullah dengan raja-raja Persia dan Romawi yang hidup mewah. Namun Nabi menjawab bahwa dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat jauh lebih utama. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-A’la: 16–17 bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.
Dalam hal makanan, Rasulullah SAW tidak pernah mencela hidangan yang disajikan. Jika menyukainya, beliau memakannya; jika tidak, beliau meninggalkannya tanpa komentar. Sikap ini menunjukkan kelapangan hati dan rasa syukur. Beliau bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati” (HR. Bukhari dan Muslim). Inilah fondasi kesederhanaan sejati: hati yang tidak terikat pada dunia.
Kesederhanaan beliau juga tercermin dalam interaksi sosial. Rasulullah SAW duduk bersama para sahabat tanpa pembeda mencolok antara pemimpin dan rakyat. Orang asing yang datang bahkan sering tidak mengenali beliau karena tidak ada singgasana atau pakaian kebesaran yang membedakannya. Kepemimpinan beliau dibangun atas akhlak, bukan simbol kemewahan.
Kesimpulannya, kesederhanaan Rasulullah SAW bukan karena keterpaksaan, tetapi pilihan sadar yang dilandasi keimanan dan visi akhirat. Di tengah budaya konsumtif dan gaya hidup berlebihan, teladan beliau menjadi cermin bagi umat Islam untuk menata kembali orientasi hidup. Dunia boleh di tangan, tetapi jangan sampai masuk ke hati. Itulah warisan kesederhanaan Rasulullah SAW yang abadi sepanjang zaman.