
Ilustrasi foto mensyukuri turun hujan
Terasmuslim.com - Dalam ajaran Islam, hujan bukan sekadar fenomena alam, tetapi rahmat yang Allah turunkan dari langit. Karena itu, seorang Muslim diajarkan untuk tidak mencela hujan atau mengucapkan kalimat seperti “semoga tidak hujan” dengan nada keluhan. Rasulullah ﷺ melarang mencela sesuatu yang datang dari Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Janganlah kalian mencela hujan, karena ia datang dengan perintah Allah” (HR. Muslim). Larangan ini menanamkan adab bahwa setiap ketetapan Allah memiliki hikmah, meski terkadang tidak sesuai dengan keinginan manusia.
Al-Qur’an secara tegas menyebut hujan sebagai bentuk rahmat dan tanda kasih sayang Allah. Allah ﷻ berfirman, “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya” (QS. Asy-Syura: 28). Ayat ini menegaskan bahwa hujan adalah karunia yang menghidupkan bumi dan jiwa manusia. Bahkan dalam ayat lain, Allah menyebut air hujan sebagai sumber kehidupan bagi seluruh makhluk (QS. Al-Anbiya: 30).
Namun, Islam juga mengajarkan keseimbangan antara pengakuan rahmat dan permohonan perlindungan. Ketika hujan turun dengan deras dan dikhawatirkan membawa mudarat, Rasulullah ﷺ tidak mencelanya, melainkan berdoa. Beliau mengajarkan doa, “Allahumma shayyiban naafi’an” (Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat) (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa sikap seorang Muslim bukan mengeluh, tetapi memohon agar rahmat itu benar-benar membawa kebaikan.
Dalam kondisi hujan yang berpotensi membahayakan, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa agar hujan dialihkan tanpa menghilangkan keberkahannya, “Allahumma hawalaina wa la ‘alaina” (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan menimpa kami) (HR. Bukhari dan Muslim). Dari sini jelas bahwa hujan tidak pernah dicela, tetapi disikapi dengan doa dan adab. Seorang Muslim diajarkan untuk selalu berharap hujan itu membawa rahmat, bukan azab.