
Ilustrasi foto kikir
Terasmuslim.com - Islam menekankan bahwa kebahagiaan rumah tangga dibangun di atas akhlak mulia, salah satunya sifat dermawan dan saling memberi. Sebaliknya, sifat bakhil (kikir) menjadi penghalang terciptanya ketenteraman dalam keluarga. Al-Qur’an dengan tegas mencela sifat ini, “Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 16). Ayat ini menunjukkan bahwa kekikiran adalah penyakit hati yang harus dihindari agar hidup, termasuk kehidupan rumah tangga, dipenuhi keberkahan.
Dalam hubungan suami istri, sifat bakhil sering memicu konflik, ketidakpercayaan, dan rasa tidak dihargai. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik dinar adalah yang dinafkahkan oleh seseorang untuk keluarganya.” (HR. Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa memberi nafkah dengan lapang dada bukan hanya kewajiban, tetapi juga ibadah yang bernilai pahala besar. Kekikiran dalam memberi nafkah atau perhatian bertentangan dengan teladan Nabi ﷺ dalam membangun keluarga yang harmonis.
Lebih jauh, Rasulullah ﷺ memperingatkan bahaya bakhil bagi kehidupan sosial dan rumah tangga. Beliau bersabda, “Jauhilah sifat bakhil, karena sifat bakhil telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa bakhil bukan sekadar persoalan harta, tetapi sifat destruktif yang merusak hubungan, menumbuhkan egoisme, dan mematikan rasa kasih sayang dalam keluarga.
Kebahagiaan rumah tangga menuntut sikap saling memberi, baik materi, perhatian, maupun pengorbanan. Allah ﷻ memuji orang-orang yang mendahulukan kepentingan orang lain, “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan.” (QS. Al-Hasyr: 9). Dengan menyingkirkan sifat bakhil dan menggantinya dengan kedermawanan serta keikhlasan, rumah tangga akan lebih mudah meraih sakinah, mawaddah, dan rahmah.