KEISLAMAN

Jejak Asal Usul Tahlilan, Shalawatan, Syukuran, dan Ruwatan di Indonesia

Yahya Sukamdani| Senin, 03/11/2025
Tradisi keagamaan seperti tahlilan, shalawatan, syukuran, dan ruwatan di Indonesia merupakan hasil akulturasi antara ajaran Islam dan budaya Nusantara yang dilestarikan dengan nilai dakwah damai para ulama terdahulu. Ilustrasi syukuran tahlilan

Terasmuslim.com - Islam di Indonesia tumbuh dalam suasana damai dan penuh toleransi budaya. Salah satu buktinya adalah banyaknya tradisi keagamaan seperti tahlilan, shalawatan, syukuran, dan ruwatan yang hingga kini masih lestari di berbagai daerah. Tradisi-tradisi ini sering dianggap sebagai wujud Islam khas Nusantara, karena menggabungkan nilai-nilai syariat dengan budaya lokal tanpa menghilangkan esensi tauhid.

Tradisi tahlilan misalnya, merupakan kegiatan membaca doa, zikir, dan kalimat la ilaha illallah bersama untuk mendoakan orang yang telah wafat. Ajaran untuk mendoakan orang yang meninggal jelas ada dalam Al-Qur’an, seperti firman Allah ﷻ dalam QS. Al-Hasyr: 10 yang menyebut, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.” Namun, bentuk tahlilan pada hari ke-7, ke-40, atau ke-100 adalah hasil penyesuaian budaya Jawa yang dilakukan para Wali Songo agar dakwah Islam diterima secara halus oleh masyarakat lokal.

Sementara itu, shalawatan menjadi bentuk ekspresi cinta umat Islam kepada Nabi Muhammad ﷺ. Allah sendiri memerintahkan umatnya untuk bershalawat, sebagaimana dalam QS. Al-Ahzab: 56, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.” Di Nusantara, tradisi ini berkembang menjadi kegiatan membaca salawat berjamaah disertai rebana atau seni hadrah. Para ulama seperti Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang menggunakan kesenian sebagai media dakwah yang lembut dan menyentuh hati masyarakat.

Adapun syukuran merupakan wujud nyata rasa syukur atas nikmat Allah, seperti kelahiran, pernikahan, hingga panen. Syariat Islam sangat menekankan pentingnya bersyukur, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ibrahim: 7, “Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” Tradisi syukuran di Indonesia diwarnai dengan doa bersama dan berbagi makanan sebagai simbol kebersamaan dan sedekah. Nilai-nilai ini memperkuat semangat gotong royong dan ukhuwah antarumat.

Baca juga :

Berbeda halnya dengan ruwatan, yang awalnya merupakan ritual kepercayaan Jawa kuno untuk menolak bala atau kesialan. Setelah datangnya Islam, para wali seperti Sunan Kalijaga meluruskan maknanya agar tidak bertentangan dengan akidah. Bentuknya berubah menjadi doa tolak bala dengan membaca Al-Qur’an dan sedekah. Esensinya kini menegaskan bahwa hanya Allah yang berkuasa menolak musibah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-An’am: 17, “Dan jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia.”

Keempat tradisi ini menunjukkan bagaimana Islam di Indonesia disebarkan dengan hikmah dan kebijaksanaan. Para ulama terdahulu tidak langsung menghapus adat istiadat, melainkan menyucikan dan mengarahkan maknanya agar sesuai dengan syariat. Pendekatan ini sejalan dengan perintah Al-Qur’an: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Seiring waktu, tahlilan, shalawatan, syukuran, dan ruwatan menjadi sarana memperkuat keimanan, mempererat silaturahmi, serta menjaga identitas keislaman yang ramah. Islam di Indonesia bukan sekadar ajaran agama, tetapi juga hadir dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Nilai-nilai luhur ini menjadi bukti bahwa dakwah yang santun lebih berdaya guna daripada pendekatan yang keras.

Melestarikan tradisi-tradisi tersebut bukan sekadar mempertahankan warisan budaya, tetapi juga menjaga ruh dakwah damai yang diwariskan para ulama. Selama tetap berlandaskan tauhid dan menjauhi kemusyrikan, tradisi Islam Nusantara ini akan terus menjadi jembatan antara agama dan budaya yang menumbuhkan harmoni dalam kehidupan umat.

TAGS : tahlilan shalawatan budaya Islam Nusantara Wali Songo

Terkini