
Ilustrasi foto Sunan Giri
Terasmuslim.com - Kisah Sunan Giri merupakan bagian penting dari mozaik dakwah Islam di Nusantara. Ia memiliki nama kecil Raden Paku, juga dikenal sebagai Ainul Yaqin, putra Maulana Ishaq. Dalam perjalanan hidupnya, ia tumbuh sebagai ulama yang cerdas dan berwibawa. Sejak muda, ia menimba ilmu agama hingga ke Pasai, pusat studi Islam saat itu. Semangatnya menuntut ilmu sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah).
Sebagai bagian dari Wali Songo, Sunan Giri dikenal memiliki pengaruh luas, bukan hanya di Jawa, tetapi hingga ke Madura, Lombok, Kalimantan, dan Sulawesi. Ia mendirikan pusat pendidikan Islam yang dikenal sebagai Giri Kedaton di wilayah Gresik. Dari pesantren inilah lahir para dai dan mubalig yang menyebarkan Islam dengan pendekatan santun dan ilmiah. Firman Allah dalam QS. At-Taubah: 122 tentang pentingnya memperdalam ilmu agama menjadi landasan perjuangannya.
Metode dakwah Sunan Giri dikenal kreatif dan membumi. Ia memanfaatkan budaya lokal sebagai sarana pendidikan akidah dan akhlak. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, dan tembang-tembang bernuansa Islami dijadikan media menanamkan tauhid sejak usia dini. Pendekatan ini mencerminkan hikmah dalam berdakwah sebagaimana perintah Allah dalam QS. An-Nahl: 125, agar menyeru manusia dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik.
Tak hanya sebagai pendidik, Sunan Giri juga memiliki peran strategis dalam dinamika politik Islam Jawa. Ia dihormati sebagai pemimpin spiritual yang memiliki otoritas moral dalam penobatan raja-raja Islam, termasuk pada masa Raden Patah di Kesultanan Demak. Perannya menunjukkan bahwa ulama pada masa itu bukan sekadar pembimbing ibadah, tetapi juga penjaga arah moral pemerintahan. Prinsip amar ma’ruf nahi munkar menjadi ruh kepemimpinannya.
Dalam hal akidah, Sunan Giri dikenal tegas menjaga kemurnian tauhid. Ia mengajarkan masyarakat untuk meninggalkan praktik-praktik syirik dan kembali kepada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Pesannya sejalan dengan QS. Al-Ikhlas yang menegaskan keesaan Allah. Namun ketegasan itu dibalut dengan kelembutan akhlak, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya” (HR. Muslim).
Warisan Sunan Giri terus hidup hingga kini. Makam dan kompleks peninggalannya di Gresik menjadi saksi sejarah perjuangan dakwahnya. Lebih dari itu, sistem pendidikan pesantren yang ia bangun menjadi fondasi kuat perkembangan Islam di Indonesia. Sunan Giri bukan hanya seorang wali, tetapi arsitek peradaban yang meletakkan pendidikan sebagai jantung dakwah. Kisahnya mengajarkan bahwa ilmu, akhlak, dan kepemimpinan adalah pilar utama membangun umat yang beriman dan berperadaban.