
Ilustrasi foto Sunan Muria
Terasmuslim.com - Kisah Sunan Muria adalah potret dakwah yang teduh dan membumi. Bernama asli Raden Umar Said, ia merupakan putra dari Sunan Kalijaga. Warisan kecerdasan budaya sang ayah berpadu dengan ketekunan pribadinya dalam menyebarkan Islam. Sunan Muria memilih berdakwah di wilayah pedesaan dan pegunungan, khususnya di sekitar lereng Gunung Muria, Jawa Tengah. Pilihan itu menunjukkan kepeduliannya kepada masyarakat kecil yang jauh dari pusat kekuasaan.
Sebagai bagian dari Wali Songo, Sunan Muria dikenal dengan pendekatan dakwah yang sangat dekat dengan kehidupan rakyat jelata. Ia berbaur dengan petani, nelayan, dan pedagang kecil. Firman Allah dalam QS. An-Nahl: 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik,” menjadi prinsip nyata dalam perjuangannya. Dakwahnya tidak menggurui, tetapi menyentuh hati dan kebutuhan sosial masyarakat.
Metode dakwah Sunan Muria banyak memanfaatkan seni dan budaya lokal. Ia menciptakan tembang-tembang seperti Sinom dan Kinanti yang sarat pesan tauhid dan akhlak. Melalui seni, ia menanamkan nilai-nilai Islam tanpa menimbulkan resistensi. Pendekatan ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW, “Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari” (HR. Bukhari dan Muslim). Inilah wajah Islam yang ramah dan menenangkan.
Selain berdakwah, Sunan Muria juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Ia mengajarkan keterampilan bercocok tanam, berdagang, dan mengelola hasil bumi. Dakwahnya menyentuh aspek spiritual sekaligus kesejahteraan sosial. Hal ini mencerminkan ajaran Islam yang menyeluruh, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qashash: 77 tentang pentingnya menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Islam bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga etos kerja dan tanggung jawab sosial.
Keteguhan akidah tetap menjadi fondasi utama perjuangannya. Ia mengajarkan tauhid dengan tegas, mengajak masyarakat meninggalkan praktik syirik dan kembali kepada kemurnian ajaran Islam. Pesannya sejalan dengan QS. Al-Ikhlas tentang keesaan Allah. Namun dalam ketegasan itu, ia tetap mengedepankan kelembutan akhlak, menjadikan dirinya teladan dalam kesabaran dan kebijaksanaan.
Warisan Sunan Muria terus dikenang hingga kini. Makamnya di kawasan Gunung Muria menjadi salah satu destinasi ziarah penting di Jawa. Lebih dari itu, jejak dakwahnya meninggalkan pelajaran berharga: bahwa perubahan besar sering lahir dari kerja sunyi dan kesabaran panjang. Sunan Muria membuktikan bahwa dakwah yang menyatu dengan rakyat, berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, akan tumbuh kokoh dan bertahan lintas generasi.