Ilustrasi orangtua main gadget di keluarga
Terasmuslim.com - Penggunaan smartphone atau HP yang tidak bijak di lingkungan keluarga tanpa disadari dapat membuka pintu kemaksiatan bagi para orang tua.
Mulai dari menyaksikan tayangan yang haram, mengumbar ghibah di media sosial, hingga melalaikan waktu shalat demi layar kaca merupakan bentuk dosa yang kerap dianggap sepele.
Dalam pandangan Islam, perilaku dosa yang dilakukan orang tua memiliki keterkaitan spiritual yang sangat erat dengan perkembangan jiwa sang anak.
Setiap maksiat yang dilakukan di dalam rumah dapat mengikis keberkahan serta menghalangi turunnya rahmat Allah ke dalam kehidupan keluarga.
Allah SWT mengingatkan para orang tua untuk menjaga diri dan keluarganya dalam Surah At-Tahrim ayat 6 dari ancaman siksa api neraka.
Ayat tersebut menegaskan bahwa benteng utama keselamatan akhlak anak dimulai dari keteladanan serta kesucian hati orang tuanya sendiri.
Perbuatan maksiat orang tua dapat menjadi penghalang terkabulnya doa-doa kebaikan yang dipanjatkan untuk kesholehan anak-anak mereka.
Rasulullah SAW menegaskan pentingnya peran dan keteladanan orang tua dalam hadis riwayat Bukhari (No. 1385) dan Muslim (No. 2658) bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa kedua orang tualah yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk arah keyakinan serta karakter anak.
Secara psikologis dan spiritual, anak-anak adalah peniru yang sangat ulung terhadap apa yang dilakukan oleh orang tua mereka sehari-hari.
Ketika orang tua sibuk bermaksiat dengan HP-nya, anak tidak hanya kehilangan figur teladan tetapi juga kehilangan kehangatan pengasuhan yang bermakna.
Fudhail bin Iyadh, seorang ulama salaf, pernah menyatakan bahwa pengaruh kemaksiatan yang ia lakukan kerap terlihat pada perubahan tabiat anggota keluarganya.
Oleh karena itu, menjaga pandangan, jemari, dan niat saat menggunakan gadget adalah bagian dari ikhtiar menjaga keshalehan keturunan.
Allah SWT berjanji dalam Surah At-Tur ayat 21 akan mengumpulkan orang-orang beriman bersama keturunannya yang mengikuti mereka dalam kebaikan.
Pembersihan diri orang tua dari maksiat HP melalui taubat dan perbaikan diri menjadi kunci utama terwujudnya generasi anak yang sholeh dan sholehah.