Ilustrasi arwah meninggal di sekitar keluarga
Terasmuslim.com - Setiap muslim tentu mendambakan pengakhiran hidup yang indah atau husnul khatimah saat memenuhi panggilan Sang Pencipta.
Namun, secara hukum syariat, manusia tidak diperbolehkan memastikan secara mutlak bahwa seseorang pasti husnul khatimah tanpa wahyu.
Penentuan nasib akhir dan status keselamatan jiwa seorang hamba di akhirat sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah SWT.
Prinsip tersebut sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur`an Surah An-Najm ayat 32: "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci, Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa."
Penilaian kasar mata manusia hanya terbatas pada amalan lahiriah, sedangkan keikhlasan dan kondisi hati saat ajal menjemput adalah perkara gaib.
Rasulullah SAW pun memperingatkan umatnya agar tidak sembarangan melabeli atau mendahului ketetapan takdir Allah atas seseorang.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya amalan itu tergantung pada akhirnya (penutupnya)."
Meskipun tidak boleh memastikan secara mutlak, umat Islam diperbolehkan berharap (raja`) dan memuji tanda-tanda kebaikan pada si mayit.
Adanya fenomena fisik seperti mengucap kalimat tauhid atau kening berkeringat saat wafat dapat dijadikan prasangka baik (husnuzhan).
Dalam hadis riwayat Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang akhir ucapannya adalah Laa ilaaha illallah, maka dia akan masuk surga."
Persaksian orang-orang saleh yang memberikan pujian atas kebaikan si mayit juga menjadi indikasi kuat ridha Allah baginya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Imam Bukhari: "Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi."
Oleh karena itu, batasan etika Islami yang paling tepat adalah mendoakan ampunan dan prasangka baik tanpa memvonis kepastian.
Menyampaikan kalimat insyaallah husnul khatimah jauh lebih beradab dibanding memastikan seolah-olah mengetahuinya secara mutlak.
Dengan menyerahkan segala keputusan akhir kepada Allah SWT, seorang mukmin senantiasa terjaga dari sikap melampaui batas dan kesombongan.