• KEISLAMAN

Waspada Istidraj, Jebakan Kenikmatan yang Sering Tidak Disadari

Yahya Sukamdani | Minggu, 23/08/2026
Waspada Istidraj, Jebakan Kenikmatan yang Sering Tidak Disadari Ilustrasi foto kemewahan dunia

Terasmuslim.com - Istidraj merupakan bentuk pembiayaan dosa di mana seseorang terus-menerus melupakan Allah namun justru dilimpahi kenikmatan duniawi.

Fenomena ini kerap tidak disadari karena manusia cenderung menganggap kelancaran rezeki sebagai tanda kasih sayang Sang Pencipta.

Padahal, kelimpahan harta dan kemudahan urusan yang hadir di tengah kemaksiatan bisa jadi awal dari kehancuran yang tersembunyi.

Allah SWT secara tegas mengingatkan jebakan ini melalui firman-Nya dalam Surah Al-An`am ayat 44:

"Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala kenikmatan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa."

Ayat tersebut menjadi peringatan keras agar setiap mukmin tidak mudah terbuai oleh kenyamanan hidup yang melalaikan.

Keadaan ini kian dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis sahih riwayat Ahmad:

"Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba kenikmatan dunia yang disukainya padahal dia terus bermaksiat, maka sesungguhnya itu adalah istidraj."

Secara perlahan, rasa takut akan dosa di dalam hati hilang karena merasa tindakannya tidak membawa dampak buruk secara langsung.

Kondisi spiritual yang kian menumpul ini diabadikan pula dalam Surah Al-A`raf ayat 182, di mana Allah menyatakan akan menarik mereka ke dalam kebinasaan dari arah yang tidak mereka ketahui.

Kesuksesan karier atau rezeki melimpah tanpa diimbangi ibadah yang benar sejatinya adalah bentuk ujian yang sangat samar.

Banyak orang terkecoh dan mengira keberhasilan materi tersebut sebagai bentuk keridaan Ilahi atas jalan hidup mereka.

Indikator utama seseorang terkena istidraj adalah meningkatnya nikmat duniawi yang berbanding terbalik dengan penurunan kualitas iman dan ibadah.

Oleh karena itu, muhasabah diri secara rutin menjadi benteng utama agar terhindar dari pembiayaan dosa yang mematikan ini.

Rasa syukur yang sejati hendaknya diwujudkan dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah, bukan justru melanggar aturan-Nya.

Semoga kita selalu diberi kepekaan hati untuk membedakan antara keberkahan hakiki dan jebakan istidraj yang menyesatkan.