Ilustrasi penggemar sepakbola
Terasmuslim.com - Fenomena mengagumi tokoh populer dunia seperti pemain sepak bola non-Muslim merupakan hal yang sangat lumrah terjadi di kalangan umat Islam saat ini.
Namun, syariat Islam memberikan batasan yang sangat jelas agar rasa kagum tersebut tidak berubah menjadi kecintaan yang berlebihan hingga melampaui batas iman.
Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Mujadila ayat 22 agar orang-orang beriman tidak menjadikan kasih sayang mendalam kepada penentang agama sebagai pegangan hidup.
Cinta yang buta dan rasa kagum hingga mengagungkan keyakinan atau gaya hidup melanggar syariat dari seorang idola dapat merusak akidah seorang muslim.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahaya bertasyabbuh melalui hadis riwayat Abu Daud bahwa barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.
Oleh karena itu, seorang muslim dilarang keras meniru nilai-nilai keagamaan, simbol, maupun gaya hidup maksiat yang melekat pada idola non-Muslim.
Kendati demikian, Islam adalah agama yang objektif dan tidak melarang pemeluknya untuk mengambil nilai-nilai kebaikan yang bersifat duniawi.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Tirmidzi bahwa hikmah atau kebaikan itu adalah barang hilang milik orang mukmin, maka di mana pun ia menemukannya, ia berhak mengambilnya.
Prinsip ini memperbolehkan kita meniru hal-hal positif seperti kedisiplinan berlatih, etos kerja tinggi, dan pola hidup sehat yang ditunjukkan para atlet profesional.
Allah SWT juga tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang non-Muslim selama mereka tidak memusuhi agama sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 8.
Mencontoh teknik olahraga yang benar serta profesionalisme kerja dari seorang pemain bola non-Muslim adalah bentuk pengambilan manfaat duniawi yang sah secara syar`i.
Kuncinya terletak pada pemisahan yang tegas antara kekaguman terhadap keahlian fisik-profesional dengan ikatan kasih sayang keagamaan dalam hati.
Prinsip wala` atau kecintaan tertinggi dan loyalitas utama seorang muslim harus tetap utuh hanya diserahkan kepada Allah, Rasul-Nya, dan sesama mukmin.
Dengan menjaga jarak yang proporsional, seorang muslim dapat terus berkembang secara fisik dan keterampilan tanpa harus mengorbankan kesucian akidahnya.
Mari kita bersikap bijak dengan mengambil ilmu dan disiplin positif dari siapa pun, seraya tetap menambatkan rasa cinta dan teladan utama hanya kepada Rasulullah SAW.