• KEISLAMAN

Hakikat Harta Kekayaan, Mengukur Kemanfaatan Bagi Sesama Manusia

Yahya Sukamdani | Selasa, 28/07/2026
Hakikat Harta Kekayaan, Mengukur Kemanfaatan Bagi Sesama Manusia Ilustrasi membantu orang

Terasmuslim.com - Pandangan Islam terhadap kekayaan tidak pernah diukur dari seberapa tumpuk harta yang berhasil dikumpulkan di dalam rekening.

Sejatinya, nilai kekayaan seorang muslim ditentukan oleh sejauh mana keberadaan hartanya mampu memberikan kemanfaatan bagi kemanusiaan.

Allah SWT menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 261 bahwa perumpamaan harta yang dinafkahkan di jalan-Nya serupa dengan benih yang melipatgandakan kebaikan.

Ayat ini mengajarkan bahwa harta yang dibagikan tidak akan pernah berkurang, melainkan justru melimpah dalam bentuk keberkahan hidup.

Rasulullah SAW juga menegaskan kriteria manusia terbaik melalui hadis riwayat Thabrani, yaitu mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Kekayaan finansial yang melimpah hanya menjadi angka tak berguna jika pemiliknya enggan mengulurkan tangan membantu sesama.

Dalam hadist riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa tidak akan pernah berkurang harta seseorang hanya karena ia bersedekah.

Harta yang kita simpan secara ketat pada akhirnya akan ditinggalkan, sedangkan harta yang diinfakkan akan menjadi simpanan abadi di akhirat.

Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Hadid ayat 7 agar kita berinfak dari sebagian harta yang telah Dia kuasakan kepada kita.

Pesan Ilahi tersebut menegaskan status kita yang hanyalah pemegang amanah sementara, bukan pemilik mutlak atas kekayaan di bumi.

Orang-orang kaya di zaman Rasulullah menjadikan kelapangan rezeki mereka sebagai sarana utama untuk memborong pahala dan keberkahan.

Mereka memahami betul bahwa menahan harta tanpa memberikan manfaat hanya akan mendatangkan penyesalan yang berat di kemudian hari.

Membantu anak yatim, mendanai pendidikan, serta membangun fasilitas umum adalah cara nyata melipatgandakan nilai kemanfaatan harta.

Ketika harta yang kita miliki berhasil menghadirkan senyum dan meringankan beban sesama, di situlah hakikat rezeki yang sebenarnya.

Mari kita ubah pola pikir dengan tidak lagi menimbun harta, melainkan melipatgandakan manfaatnya selagi kesempatan itu masih ada.