Ilustrasi foto pemimpin negara
Terasmuslim.com - Setiap jabatan yang melekat pada diri seseorang di dunia ini merupakan ujian keimanan yang sangat berat.
Islam memandang kekuasaan bukan sebagai fasilitas kemewahan, melainkan sebuah beban tanggung jawab yang wajib ditunaikan secara mutlak.
Kelak di hari kiamat, setiap pemegang otoritas akan berdiri sendiri untuk mempertanggungjawabkan setiap kebijakan yang diambilnya.
Hal ini ditegaskan secara eksplisit oleh Allah SWT dalam Al-Quran Surah Al-Isra ayat 36 mengenai pertanggungjawaban indra dan hati.
"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36).
Menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadi atau kelompok merupakan bentuk pengkhianatan terbesar terhadap kepercayaan masyarakat.
Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat bergetar bagi siapa saja yang diserahi urusan kaum muslimin namun bertindak curang.
Dalam sebuah hadist sahih, beliau menegaskan bahwa ancaman bagi pemimpin yang menipu rakyatnya adalah diharamkan mencium bau surga.
"Tidaklah seorang hamba diserahi Allah memimpin rakyat, lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya." (HR. Bukhari).
Oleh karena itu, seorang pejabat mukmin seharusnya merasa cemas dan berhati-hati, bukan malah berambisi mengejar kedudukan.
Amanah jabatan menuntut transparansi total dan keadilan yang tidak memihak demi tegaknya kemaslahatan umat manusia.
Allah SWT juga mengingatkan manusia dalam Surah An-Nisa ayat 58 untuk selalu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil." (QS. An-Nisa: 58).
Ketika keadilan diabaikan dan amanah dikhianati, maka kerusakan tatanan sosial dan hilangnya keberkahan bangsa tinggal menunggu waktu.
Kesadaran akan adanya pengadilan akhirat yang maha adil harus menjadi kompas utama bagi setiap pemimpin dalam melangkah.
Hanya pemimpin yang takut kepada Allah yang mampu menyelamatkan dirinya dari kehinaan di dunia dan siksa di akhirat kelak.