Ilustrasi foto lingkungan hidup
Terasmuslim.com - Al-Qur’an secara konsisten merangsang nalar manusia untuk memperhatikan keindahan, keteraturan, dan keajaiban jagat raya.
Ajakan reflektif ini bertujuan agar manusia tidak sekadar hidup, melainkan mampu menangkap esensi spiritual di balik penciptaan.
Setiap elemen di alam semesta, mulai dari bentangan langit hingga samudra luas, merupakan ayat kauniyah (tanda-tanda kekuasaan Allah yang tercipta).
Melalui perenungan terhadap keteraturan makrokosmos, manusia diarahkan untuk mengakui keberadaan Sang Pencipta Yang Maha Mengatur.
Hal ini secara tegas digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta`ala dalam Al-Qur`an Surat Ali `Imran ayat 190.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali `Imran: 190)
Melalui ayat tersebut, Allah menyematkan gelar ulul albab atau orang yang berakal bagi mereka yang gemar mentadaburi alam.
Merenungi alam juga berfungsi membongkar kesombongan manusia dengan memperlihatkan betapa kecilnya kita di tengah luasnya semesta.
Ketika manusia menyadari keterbatasan dirinya, rasa tawadhu atau rendah hati kepada Sang Khalik akan tumbuh secara natural.
Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wasallam bahkan sangat menekankan pentingnya meresapi makna dari ayat-ayat penciptaan ini dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Hibban, Nabi menangis saat menerima ayat tentang pergantian malam dan siang karena maknanya yang begitu mendalam.
Beliau bersabda bahwa celakalah orang yang membaca ayat tentang alam tersebut namun sama sekali tidak mau memikirkannya.
Berpikir tentang kehebatan alam semesta juga menjadi bahan bakar utama dalam memicu perkembangan ilmu pengetahuan bagi peradaban Islam.
Sains dan spiritualitas dalam Islam tidak pernah terpisahkan karena keduanya bermuara pada satu kesimpulan: tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia.
Pada akhirnya, kesadaran ekologis ini akan menuntun seorang mukmin untuk menjaga bumi dengan penuh rasa tanggung jawab dan ketakwaan.
Semoga kita tidak menjadi hamba yang buta mata hatinya dari melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar luas di alam ini.