Ilustrasi lafadz Nabi Muhammad SAW
Kehidupan Muhammad sebagai Rasul terakhir tidak identik dengan kemewahan dunia, melainkan dengan kesederhanaan, syukur, dan kedekatan kepada Allah SWT. Meski memiliki kedudukan tinggi sebagai nabi dan pemimpin umat, beliau menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Rasulullah mengajarkan bahwa kebahagiaan hidup tidak bergantung pada harta yang melimpah, tetapi pada hati yang penuh rasa syukur dan ketenangan iman.
Salah satu cara Rasulullah menikmati hidup adalah dengan selalu bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan. Dalam banyak riwayat hadits disebutkan bahwa beliau sering memuji Allah bahkan untuk nikmat yang kecil sekalipun. Dalam Al-Qur’an, Allah juga mengingatkan pentingnya bersyukur sebagaimana disebutkan dalam Surah Ibrahim ayat 7 bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya. Rasulullah menjadikan syukur sebagai kunci kebahagiaan hidup.
Rasulullah juga menikmati hidup dengan menjaga keseimbangan antara ibadah dan aktivitas dunia. Beliau tetap bekerja, berdakwah, memimpin masyarakat, sekaligus meluangkan waktu untuk keluarga. Dalam rumah tangga, Rasulullah membantu pekerjaan rumah, berbincang dengan keluarga, bahkan bercanda dengan istri-istrinya. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memandang kehidupan secara seimbang, tidak hanya fokus pada ibadah ritual tetapi juga hubungan sosial.
Selain itu, Rasulullah menikmati hidup dengan menjaga kesehatan dan kesederhanaan dalam makan. Beliau tidak pernah berlebihan dalam makanan dan minuman. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa manusia tidak memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya; cukup baginya beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Pola hidup ini tidak hanya menyehatkan secara fisik, tetapi juga melatih pengendalian diri.
Rasulullah juga menikmati hidup dengan memperbanyak dzikir dan ibadah kepada Allah. Meski dosa-dosanya telah diampuni, beliau tetap rajin melaksanakan shalat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan itu, Rasulullah menjawab bahwa beliau ingin menjadi hamba yang bersyukur. Ibadah bagi Rasulullah bukan beban, melainkan sumber ketenangan dan kebahagiaan spiritual.
Dari teladan Rasulullah tersebut, umat Islam dapat memahami bahwa menikmati hidup bukan berarti tenggelam dalam kesenangan dunia. Sebaliknya, kebahagiaan sejati muncul dari hati yang dekat kepada Allah, hidup sederhana, menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, serta selalu bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan. Inilah cara hidup Rasulullah yang penuh hikmah dan menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.