• SOSOK

Dari Lawan Menjadi Pembela Islam, Khalid bin Walid

M. Habib Saifullah | Sabtu, 21/02/2026
Dari Lawan Menjadi Pembela Islam, Khalid bin Walid Ilustrasi Khalid bin Walid sebagai panglima perang Muslim yang dulunya dikenal sebagai preman Arab (Foto:sindonews)

Terasmuslim.com - Khalid bin Walid merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam awal. Ia dikenal sebagai panglima perang yang memiliki kecakapan strategi dan keberanian di medan tempur. Dalam literatur Islam, ia mendapat julukan Saifullah al-Maslul atau Pedang Allah yang Terhunus.

Ia lahir sekitar tahun 592 M di Makkah dari Bani Makhzum, salah satu kabilah Quraisy yang terpandang. Sejak muda, Khalid telah terbiasa dengan dunia militer. Tradisi suku Arab saat itu menjadikan keterampilan berkuda, memanah, dan bertempur sebagai bagian dari pendidikan.

Pada masa awal dakwah Nabi Muhammad SAW, Khalid bin Walid termasuk di antara tokoh Quraisy yang menentang Islam. Ia bahkan terlibat dalam beberapa pertempuran melawan kaum Muslimin.

Dalam Perang Uhud, strategi kavaleri yang dipimpinnya berhasil membalikkan keadaan dan membuat pasukan Muslim mengalami tekanan berat.

Meski demikian, perjalanan hidupnya berubah setelah Perjanjian Hudaibiyah. Ia mulai memperhatikan perkembangan Islam yang semakin luas dan stabil.

Setelah melalui perenungan, Khalid memutuskan memeluk Islam sekitar tahun 629 M. Ia kemudian datang ke Madinah dan menyatakan keislamannya di hadapan Nabi Muhammad SAW.

Keputusan tersebut disambut baik. Nabi tidak menyinggung masa lalunya, bahkan memberikan kepercayaan besar kepadanya. Dalam Perang Mu’tah, ketika para panglima Muslim gugur satu per satu, Khalid mengambil alih komando pasukan dan berhasil menyelamatkan tentara Muslim dari kehancuran. Atas kepemimpinannya itu, Nabi Muhammad SAW memberinya gelar Saifullah.

Setelah wafatnya Nabi, Khalid berperan penting dalam sejumlah pertempuran pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Ia memimpin pasukan dalam Perang Riddah melawan kelompok pemberontak serta menghadapi pasukan Romawi dan Persia.

Keberhasilannya terlihat dalam berbagai operasi militer di Irak dan Syam. Strateginya yang cepat, mobilitas tinggi pasukan kavaleri, serta kemampuan membaca situasi medan membuatnya dikenal sebagai salah satu jenderal paling efektif pada masanya.

Namun kehidupannya tidak hanya tentang peperangan. Khalid dikenal sederhana dan taat beribadah. Meski sering berada di medan tempur, ia menjaga salat dan kedisiplinan spiritual.

Ia juga dikenal tidak mencari jabatan. Ketika Khalifah Umar memberhentikannya dari jabatan panglima, Khalid menerimanya tanpa penolakan dan tetap berperang sebagai prajurit biasa.

Di akhir hidupnya, ia wafat sekitar tahun 642 M di Homs, wilayah Suriah. Menariknya, seorang panglima yang melewati banyak peperangan itu wafat di tempat tidur, bukan di medan perang. Dalam riwayat disebutkan tubuhnya dipenuhi bekas luka pertempuran.

Kehidupan Khalid bin Walid menunjukkan perjalanan perubahan pribadi yang besar. Dari penentang Islam menjadi pembela setia, serta dari panglima besar menjadi pribadi yang sederhana.