Ilustrasi foto pemahaman liberal
Terasmuslim.com - Di setiap zaman, selalu muncul pemikiran yang mencoba menafsirkan agama sesuai selera manusia. Dalam konteks modern, sebagian gagasan liberal berusaha merelatifkan kebenaran, menundukkan wahyu pada akal, dan memisahkan agama dari kehidupan publik. Dampaknya, ajaran yang bersifat prinsipil menjadi kabur. Padahal Allah SWT telah menegaskan, “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali ‘Imran: 19). Ketika kebenaran dianggap relatif, akidah pun perlahan melemah.
Salah satu bentuk penyimpangan adalah menafsirkan Al-Qur’an tanpa kaidah ilmu yang benar. Ayat-ayat yang jelas ditakwil agar sesuai dengan arus pemikiran zaman. Allah memperingatkan dalam QS. Ali ‘Imran ayat 7 tentang orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah. Sikap ini berbahaya karena membuka pintu keraguan dalam memahami syariat.
Pemikiran yang mengabaikan Sunnah juga menjadi masalah serius. Sebagian pihak hanya ingin berpegang pada Al-Qur’an menurut logika mereka sendiri, sementara hadist dianggap tidak relevan. Padahal Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau diberi Al-Qur’an dan yang semisal dengannya (HR. Imam Abu Dawud). Mengabaikan Sunnah berarti memisahkan Islam dari penjelasan praktisnya.
Lalu bagaimana Rasulullah SAW menghadapi penyimpangan dan pemikiran keliru pada zamannya? Beliau tidak merespons dengan kekerasan emosional, tetapi dengan hujjah, kesabaran, dan keteladanan akhlak. Ketika kaum Quraisy menawarkan kompromi akidah menyembah tuhan mereka setahun dan menyembah Allah setahun Allah menurunkan QS. Al-Kafirun sebagai jawaban tegas tanpa kompromi dalam akidah, namun tetap dengan bahasa yang jelas dan terhormat.
Rasulullah SAW juga menanamkan fondasi ilmu dan iman pada para sahabat. Dalam hadist riwayat Imam Bukhari, beliau bersabda bahwa siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memahamkannya tentang agama. Artinya, solusi utama menghadapi pemikiran menyimpang adalah penguatan ilmu syar’i yang shahih, bukan sekadar retorika.
Akhirnya, menghadapi arus liberalisme bukan dengan kebencian, tetapi dengan penguatan akidah, pendidikan yang benar, dan akhlak yang mulia. Tegas dalam prinsip, namun santun dalam cara. Itulah manhaj Rasulullah SAW: menjaga kemurnian tauhid, membangun generasi berilmu, dan menjawab syubhat dengan dalil yang terang. Dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah secara utuh, umat akan tetap kokoh di tengah perubahan zaman.