• KEISLAMAN

Tak Mengenal Allah, Jangan Heran Sulit Bertawakkal

Yahya Sukamdani | Selasa, 03/02/2026
Tak Mengenal Allah, Jangan Heran Sulit Bertawakkal Ilustrasi Allah SWT memberikan mujizat kepada nabi dan rasul

Terasmuslim.com - Tawakkal adalah salah satu puncak ibadah hati dalam Islam. Namun tawakkal yang benar tidak lahir dari sekadar ucapan, melainkan dari pengenalan yang benar kepada Allah (ma’rifatullah). Seseorang yang tidak mengenal Rabb-nya dengan baik, tidak akan mampu menyerahkan urusan hidupnya sepenuhnya kepada-Nya, karena secara fitrah manusia tidak akan percaya kepada sesuatu yang tidak ia kenal.

Allah SWT mengaitkan tawakkal langsung dengan keimanan. Allah berfirman:

“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakkal.”
(QS. Ibrahim: 11).
Ayat ini menunjukkan bahwa tawakkal adalah konsekuensi dari iman, dan iman tidak akan sempurna tanpa mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3).
Janji ini hanya bisa diyakini oleh orang yang mengenal Allah sebagai Ar-Razzaq, Al-Wakil, dan Al-Qadir. Tanpa mengenal sifat-sifat ini, tawakkal akan berubah menjadi keraguan dan kecemasan.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa tawakkal harus dibangun di atas keyakinan yang benar. Beliau bersabda:

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi, dinyatakan hasan sahih).
Hadis ini menunjukkan bahwa tawakkal lahir dari keyakinan penuh terhadap jaminan Allah, bukan dari ketidaktahuan.

Mengenal Allah bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan mempelajari Asmaul Husna, memahami rububiyah-Nya, dan menyadari kuasa-Nya dalam setiap urusan hidup. Allah SWT berfirman:

“Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.”
(QS. Al-A’raf: 180).
Semakin seseorang mengenal Allah, semakin kuat tawakkalnya.

Sebaliknya, orang yang tidak mengenal Allah akan menggantungkan hatinya kepada makhluk, sebab ia tidak yakin kepada pertolongan yang tidak ia pahami. Inilah mengapa tauhid dan ma’rifatullah menjadi fondasi utama dalam membangun tawakkal yang benar.

Kesimpulannya, tawakkal tidak akan tumbuh tanpa mengenal Allah. Barang siapa ingin hatinya tenang dan bersandar penuh kepada Allah, maka ia harus memulai dengan mengenal Allah melalui Al-Qur’an dan Sunnah, karena dari situlah keyakinan, ketenangan, dan tawakkal sejati lahir.