Ilustrasi foto jalan dunia dan surga
Terasmuslim.com - Dalam pandangan Islam, keberuntungan yang sebenarnya bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya popularitas. Keberuntungan hakiki adalah keselamatan dari azab Allah dan keberhasilan meraih surga. Al-Qur’an dengan tegas menyebutkan ukuran keberuntungan sejati:
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 185). Ayat ini menegaskan bahwa segala bentuk keberhasilan dunia tidak bernilai jika tidak berujung pada keselamatan akhirat.
Keberuntungan sejati juga berkaitan erat dengan iman dan ketakwaan. Allah SWT berfirman:
“Dan barang siapa beriman kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memberikan pahala yang besar.” (QS. Ath-Thalaq: 5). Ayat ini menunjukkan bahwa iman dan takwa adalah sebab utama datangnya ampunan dan pahala, yang merupakan inti keberuntungan seorang hamba.
Rasulullah SAW mengingatkan agar kaum Muslimin tidak tertipu oleh gemerlap dunia. Beliau bersabda:
“Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim). Hadits ini mengajarkan bahwa ketenangan hati, kecukupan, dan qana’ah adalah tanda keberuntungan, bukan sekadar banyaknya kepemilikan.
Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa orang-orang yang beruntung adalah mereka yang membersihkan jiwa dan menjauhi maksiat. Allah SWT berfirman:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10). Penyucian jiwa dengan iman dan amal saleh menjadi kunci keberuntungan yang tidak akan sirna.
Dalam banyak hadits, Rasulullah SAW menegaskan bahwa kerugian yang sebenarnya adalah ketika seseorang diberi umur panjang namun jauh dari ketaatan. Sebaliknya, orang yang menggunakan hidupnya untuk beribadah dan taat kepada Allah adalah orang yang paling beruntung. Dunia hanyalah sarana, bukan tujuan akhir, sebagaimana sabda Nabi SAW:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari).
Kesimpulannya, keberuntungan yang sebenarnya adalah keberhasilan meraih ridha Allah, diampuni dosa-dosa, diselamatkan dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga. Semua itu dicapai dengan iman, takwa, amal saleh, serta hati yang qana’ah. Inilah keberuntungan yang abadi dan tidak akan pernah hilang.