Ilustrasi - kabah (Foto: darunnajah)
Jakarta, Terasmuslim.com - Ibadah haji menjadi momen paling sakral bagi umat Islam di seluruh dunia. Selama menjalankan rangkaian ritual di Tanah Suci, jemaah dianjurkan untuk memperbanyak doa yang sesuai tuntunan syariat.
Beberapa doa bahkan dikenal sebagai bacaan utama yang paling dianjurkan ketika berada di Makkah dan Madinah.
Kementerian Agama dan para ulama menegaskan bahwa inti dari ibadah haji adalah ketundukan dan penghambaan kepada Allah. Karena itu, doa yang dipanjatkan tidak hanya berupa rangkaian lafaz tertentu, tetapi juga keikhlasan dan kekhusyukan hati selama menjalankan setiap amalan.
Saat berihram dari miqat, jemaah dianjurkan membaca talbiyah, sebuah bacaan yang menjadi syiar utama haji:
“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika lak.”
Doa ini menjadi tanda dimulainya rangkaian ibadah haji dan melambangkan kesiapan penuh jemaah menjalankan perintah Allah dengan hati tunduk dan patuh.
Tidak ada bacaan khusus yang diwajibkan saat tawaf, namun jemaah dianjurkan memperbanyak dzikir, istighfar, dan doa pribadi. Meski demikian, ada doa yang paling dianjurkan ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, yaitu:
“Rabbana aatina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar.”
Doa ini dikenal sebagai doa paling lengkap karena mencakup permohonan kebaikan dunia, akhirat, dan perlindungan dari siksa neraka.
Sa’i mengingatkan jemaah pada kisah perjuangan Siti Hajar mencari air untuk Nabi Ismail. Karena itu, doa yang dianjurkan adalah doa penuh harap, memohon rezeki, pertolongan, dan kelapangan hati.
Di Bukit Shafa, jemaah dianjurkan membaca ayat:
“Inna sh-shafa wal-marwata min sya’aairillah…”
Selanjutnya jemaah bebas berdoa apa saja, memohon kemudahan dalam hidup, jodoh, kesehatan, dan keberkahan.
Arafah dikenal sebagai waktu paling mustajab dalam ibadah haji. Rasulullah SAW bersabda bahwa doa terbaik adalah doa pada hari Arafah. Doa yang beliau ajarkan adalah:
“Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir.”
Pada momen ini, jemaah dianjurkan memperbanyak permohonan ampunan, doa keluarga, dan segala harapan hidup karena waktu Arafah diyakini sebagai salah satu saat ketika pintu langit terbuka lebar.
Ketika melontar jumrah, jemaah dianjurkan membaca takbir setiap kali melempar batu:
“Bismillah, Allahu Akbar.”
Setelah selesai melontar Jumrah Ula dan Wustha, jemaah dianjurkan berdoa dengan menghadap kiblat. Doa ini menjadi simbol penguatan diri untuk melawan godaan dan keburukan dalam kehidupan sehari-hari.
Tahallul menjadi tanda berakhirnya beberapa larangan ihram. Pada saat ini, jemaah dianjurkan memperbanyak istighfar dan mengucapkan syukur atas nikmat yang diberikan Allah.
Banyak ulama menganjurkan membaca:
“Alhamdulillahilladzi adz-haba ‘annal adza wa ‘afani.”
Doa ini mengandung makna syukur atas kemudahan Allah dalam menyelesaikan ritual haji.
Multazam, area antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah—dianggap sebagai tempat mustajab. Jemaah dianjurkan menempelkan dada, tangan, dan wajah ke dinding Ka’bah sambil berdoa meminta apa saja yang menjadi hajat hidup.
Sementara di Hijr Ismail, banyak jemaah berdoa untuk keluarga, anak keturunan, kesehatan, serta ampunan. Tempat ini diyakini sebagai salah satu titik keberkahan di sekitar Ka’bah.